SUMATERA UTARA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 2.297 kejadian bencana di Indonesia hingga 5 November 2026, dengan 99,2% di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi. Data yang dipaparkan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan itu menempatkan karhutla dan banjir sebagai dua kejadian terbanyak. Dominasi ancaman cuaca ini berdampak pada 428 korban meninggal dan lebih dari 6 juta orang terdampak.
BNPB mencatat 1.064 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang periode yang sama, menjadikannya jenis bencana paling sering muncul. Banjir menyusul dengan 611 kejadian, disusul cuaca ekstrem 351 kejadian, kekeringan 125, dan tanah longsor 114.
Gelombang pasang dan abrasi tercatat 14 kejadian. Sementara bencana geologi jauh lebih kecil porsinya: 14 gempa bumi dan empat erupsi gunung api.
Dampak Korban: 428 Meninggal, 6 Juta Orang Terdampak
Rangkaian bencana tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerugian besar. BNPB mencatat 428 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, dan 3.260 orang luka-luka.
Lebih dari 6 juta orang tercatat menderita dan mengungsi akibat bencana yang terjadi. Angka ini menunjukkan bahwa dominasi bencana hidrometeorologi tidak hanya soal frekuensi, tetapi juga besaran dampak sosialnya.
Mengapa Karhutla Masuk Kategori Hidrometeorologi
Bencana hidrometeorologi berkaitan dengan dinamika atmosfer, air, dan lautan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut fenomena ini mencakup curah hujan ekstrem, banjir, kekeringan, badai, hingga kondisi cuaca yang menimbulkan kerusakan.
BNPB memasukkan karhutla ke kategori yang sama karena kemunculan dan penyebaran api dipengaruhi suhu, kelembapan, angin, serta kondisi vegetasi yang mengering. Artinya, risiko tidak hanya naik saat musim hujan, tetapi juga saat periode kering panjang.
Indonesia karenanya menghadapi dua ancaman yang perlu diantisipasi bersamaan. Saat curah hujan tinggi, banjir dan longsor mengintai. Saat curah hujan rendah berkepanjangan, lahan mengering dan lebih mudah terbakar.
Peringatan BNPB soal Cuaca Ekstrem
Berton menyebut dinamika cuaca saat ini berlangsung cepat dan intens akibat tingginya variabilitas iklim. "Kondisi tersebut berpotensi memicu cuaca ekstrem, banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi," ujarnya dalam keterangan BNPB pada 4 November 2026.
Peralihan Musim Hujan Jadi Fase Rawan
Memasuki November 2026, sejumlah wilayah mulai beralih menuju musim hujan. Hujan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang berpotensi memicu bencana pada fase ini.
Hujan deras dalam waktu singkat dapat menaikkan debit air sungai dan memicu banjir. Di wilayah dengan lereng rentan, air hujan meningkatkan kandungan air dalam tanah hingga mengganggu kestabilan lereng dan memicu longsor.
BNPB mendorong pemerintah daerah memetakan wilayah rawan bencana, memperkuat sistem peringatan dini, serta memastikan kesiapan personel dan logistik. Masyarakat diminta mengenali potensi ancaman di lingkungan masing-masing.
Tingginya porsi bencana hidrometeorologi menunjukkan risiko tidak hanya ditentukan seberapa ekstrem cuaca. Kondisi lingkungan, tata ruang, sistem drainase, tutupan lahan, dan kesiapan masyarakat ikut menentukan besarnya dampak yang muncul.