Pencarian

Pertamina Mulai Bangun Pusat Hidrogen 4.000 kg per Hari di Sumut, Target Pasok Industri Pupuk dan Kilang

Sabtu, 25 Juli 2026 • 14:52:01 WIB
Pertamina Mulai Bangun Pusat Hidrogen 4.000 kg per Hari di Sumut, Target Pasok Industri Pupuk dan Kilang

MEDAN — Pembangunan pusat produksi hidrogen (hydrogen hub) di Sumatera Utara resmi dimulai. Pertamina melalui anak usahanya menggarap fasilitas berkapasitas 4.000 kg per hari di Sei Mangkei dan Kuala Tanjung. Proyek ini menandai langkah awal pembangunan ekosistem hidrogen terintegrasi nasional yang akan menjangkau dari Sumatera hingga Papua.

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menyebut hidrogen diproyeksikan menjadi energi strategis yang melengkapi bauran energi nasional. Pengembangan ini membutuhkan sinergi lintas sektor agar tercipta ekosistem yang kuat dan berkelanjutan. Pertamina tidak hanya membangun produksi tetapi juga rantai pasok yang mencakup hulu, pemanfaatan konsumen, dan kolaborasi mitra strategis.

Dampak Langsung ke Industri Hilir

Kehadiran hydrogen hub ini membuka peluang bagi industri hilir seperti pabrik pupuk, kilang minyak, dan sektor transportasi berat yang membutuhkan hidrogen sebagai bahan baku atau energi alternatif. Pasokan hidrogen domestik yang lebih murah dan stabil diharapkan mengurangi impor bahan baku, sekaligus meningkatkan daya saing biaya produksi.

Di sisi lain, proyek ini juga menjadi peluang bagi kontraktor konstruksi dan penyedia teknologi elektrolisis. Mereka berpotensi mendapatkan kontrak besar dalam pembangunan hydrogen hub dan infrastruktur pendukungnya. Lapangan kerja baru di sektor energi hijau pun ikut terdorong.

Tantangan Biaya dan Infrastruktur Listrik

Meski ambisius, realisasi proyek ini masih menghadapi kendala klasik: biaya produksi hidrogen—terutama hidrogen hijau—masih tinggi. Sebab, produksi hijau membutuhkan listrik dari energi terbarukan dalam skala besar. PLN sebagai penyedia listrik harus menyediakan pasokan dari PLTS, PLTA, dan panas bumi. Tanpa pengelolaan yang baik, beban biaya listrik justru bisa membengkak.

Indonesia saat ini masih bergantung pada energi fosil. Konsumsi energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara transisi ke energi bersih terhambat oleh infrastruktur dan anggaran. Proyek hidrogen Pertamina menjadi salah satu ujung tombak diversifikasi energi, meskipun kontribusinya terhadap bauran energi nasional dalam jangka pendek masih sangat kecil.

Jadwal dan Risiko yang Perlu Dipantau

Dalam siklus investasi energi, proyek semacam ini biasanya membutuhkan waktu lima hingga sepuluh tahun untuk mencapai skala komersial. Karena itu, dukungan kebijakan yang konsisten menjadi kunci. Investor akan mencermati realisasi pembangunan fisik kedua lokasi—apakah rampung sesuai target dan anggaran. Kapasitas produksi awal 4.000 kg/hari menjadi tolok ukur pertama.

Risiko lainnya adalah perubahan harga energi global dan kebijakan fiskal. Jika harga listrik atau gas naik, biaya produksi bisa melampaui harga jual. Selain itu, persaingan dengan energi lain seperti listrik berbasis baterai atau biofuel juga perlu diantisipasi. Perubahan kebijakan setelah pergantian kepemimpinan atau tekanan fiskal akibat defisit APBN bisa membatasi insentif untuk energi baru.

Sinyal penting yang patut dicermati adalah adanya pengumuman kerja sama dengan perusahaan teknologi hidrogen asing atau investor internasional. Langkah itu akan menjadi indikator kepercayaan pasar terhadap kelayakan proyek hydrogen hub di Sumatera Utara.

Bagikan
Sumber: feedberry.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks