JAKARTA — Pasar uang domestik mencatat penguatan tipis pada Selasa (15/7) setelah S&P Global Ratings mengerek optimisme terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Lembaga pemeringkat internasional itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen per tahun dalam tiga tahun ke depan, didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan hilirisasi sumber daya alam.
S&P Pertahankan Peringkat BBB, Prospek Stabil
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB—kategori layak investasi—dengan prospek tetap stabil. “Ini berkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal dan pemerintah yang relatif lebih ringan dibanding negara sesama peringkat BBB,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
S&P menilai kebijakan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan penghasilan ekspor. Namun, lembaga ini juga mencatat gejolak pasar keuangan pada semester I/2026—kapitalisasi pasar saham terkoreksi lebih dari 30 persen, dan rupiah melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS pada periode yang sama.
Proyeksi Ekonomi 5,1 Persen di Tengah Suku Bunga Tinggi
Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen. Angka ini sedikit melambat dari capaian kuartal I/2026 yang menembus 5,6 persen. “Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri,” kata Ibrahim.
Blokade Selat Hormuz dan Ancaman Harga Minyak
Dari sisi global, sentimen risiko justru mendorong penguatan rupiah. Presiden AS Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran, yang mulai berlaku Selasa (14/7). Militer AS menargetkan lalu lintas kapal terkait Iran, namun tetap mengizinkan pengiriman komersial netral melintasi Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global.
“Investor khawatir eskalasi militer lebih lanjut dapat mengganggu aliran minyak dari Teluk, setelah Iran melancarkan serangan drone terhadap aset AS di Kuwait dan menyerang kapal di Selat Hormuz dengan rudal jelajah,” ungkap Ibrahim. Aksi ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah, menekan pasar saham global, dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Sinyal Hawkish dari The Fed: Suku Bunga Berpotensi Naik
Sentimen lain datang dari pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller. Ia mengisyaratkan bahwa jika Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik pekan ini, kenaikan suku bunga perlu dipertimbangkan. “Angka inflasi inti yang tinggi akan memaksa pertimbangan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat,” ujar Waller. Meski bersikap hawkish, ia masih melihat kemungkinan inflasi mencapai target 2 persen tanpa kenaikan suku bunga.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga menguat ke level Rp18.099 per dolar AS, dari sebelumnya Rp18.131 per dolar AS.