Bitcoin mencatat reli signifikan hingga menembus angka 80.000 dolar AS atau sekitar Rp 1,28 miliar pada Senin lalu di tengah lonjakan ekspektasi inflasi Amerika Serikat. Pergerakan ini memicu pergeseran paradigma di kalangan investor global yang mulai melihat aset kripto utama ini sebagai instrumen lindung nilai, bukan sekadar aset berisiko. Tren tersebut diperkuat oleh aliran dana institusional yang masif melalui ETF meskipun pasar komoditas sedang memanas.
Bitcoin menunjukkan anomali yang mematahkan pakem tradisional ekonomi makro dalam sebulan terakhir. Saat harga minyak mentah bertahan di atas 100 dolar AS dan indeks komoditas Bloomberg mencapai level tertinggi dalam satu dekade, Bitcoin justru menguat 19 persen. Fenomena ini menarik perhatian karena biasanya inflasi tinggi memicu kebijakan suku bunga ketat yang menekan aset tanpa imbal hasil seperti kripto.
Melawan Pakem Tradisional Ekonomi Makro
Dalam skenario normal, lonjakan inflasi adalah sinyal "bearish" bagi Bitcoin. Inflasi tinggi memaksa Federal Reserve mempertahankan suku bunga di level tinggi, yang secara otomatis meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah AS. Pola ini terlihat jelas pada 2022, ketika kenaikan suku bunga agresif memicu kejatuhan harga Bitcoin secara drastis.
Kini, skrip tersebut tidak lagi berlaku. Analis dari bursa Bitfinex mencatat adanya diskoneksi yang nyata antar kelas aset di pasar global. Sementara komoditas mencerminkan tekanan pasokan, aset berisiko seperti Bitcoin justru terus merangkak naik, memicu pertanyaan besar mengenai ketahanan reli pasar saat ini.
Institusi Mulai Melirik Bitcoin sebagai Pengganti Emas
Pergeseran status Bitcoin dari aset spekulatif menjadi instrumen lindung nilai (inflation hedge) didukung oleh data aliran modal yang kuat. Sejak Maret, 11 ETF Bitcoin spot yang terdaftar di bursa Amerika Serikat berhasil menghimpun dana investor sebesar 4,45 miliar dolar AS atau sekitar Rp 71,2 triliun. Angka ini hampir membalikkan arus keluar besar-besaran yang sempat menekan harga pada musim gugur lalu.
Ryan Lee, Chief Analyst Bitget Research, menyoroti bahwa perubahan paling menarik justru terjadi di sisi institusional. "Emas bukan lagi menjadi pilihan default utama. Aset digital semakin dipertimbangkan secara berdampingan dengan emas, bukan lagi sebagai opsi cadangan," tulis Lee dalam catatannya. Likuiditas Bitcoin yang tinggi dianggap mampu mendukung potensi kenaikan harga hingga 3,5 kali lipat dalam tiga tahun ke depan.
Dukungan Terbuka dari Legenda Wall Street
Narasi Bitcoin sebagai pelindung inflasi kini mendapatkan validasi dari tokoh-tokoh besar di luar lingkaran kripto. Paul Tudor Jones, trader makro terkemuka yang dikenal karena prediksinya pada krisis pasar saham 1987, memberikan dukungan paling tegas. Jones secara terbuka menyatakan bahwa Bitcoin adalah instrumen lindung nilai inflasi terbaik saat ini.
"Bitcoin, secara tegas, adalah instrumen lindung nilai inflasi terbaik yang pernah ada, bahkan melampaui emas," ujar Jones. Argumen utamanya terletak pada struktur pasokan yang terbatas. Berbeda dengan emas yang pasokannya bertambah setiap tahun melalui penambangan, Bitcoin memiliki jumlah maksimal yang tetap di tengah kecenderungan bank sentral dunia yang terus menambah jumlah uang beredar.
Ujian Sesungguhnya Menanti di Pasar Saham
Meskipun narasi pelindung inflasi sedang naik daun, para investor tetap harus mewaspadai korelasi Bitcoin dengan pasar ekuitas. Saat ini, saham-saham di bursa Amerika Serikat sedang berada dalam tren penguatan, yang memberikan sentimen positif bagi seluruh kompleks aset berisiko. Kondisi ini membuat sulit untuk menyimpulkan apakah Bitcoin naik karena fungsi lindung nilai atau sekadar mengikuti arus optimisme pasar saham.
Firma perdagangan aset digital QCP Capital yang berbasis di Singapura mencatat bahwa korelasi Bitcoin dengan saham AS kembali mendekati level tahun 2023. Hal ini menandakan adanya keterikatan yang kembali menguat dengan aset berisiko secara luas. Ujian nyata bagi tesis "lindung nilai" ini baru akan terbukti jika pasar saham mengalami koreksi tajam.
Jika harga Bitcoin mampu bertahan atau bahkan terus naik saat bursa saham berguguran, maka statusnya sebagai "emas digital" baru akan terkonfirmasi secara absolut. Untuk saat ini, reli menuju 80.000 dolar AS tetap menjadi sinyal kuat bahwa dinamika pasar kripto telah berevolusi jauh melampaui sekadar spekulasi ritel.