MEDAN — Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini atas dasar harga berlaku menyentuh angka Rp320,03 triliun, sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp167,92 triliun.
Sektor Pariwisata dan Jasa Boga Tumbuh 18,62 Persen
Kenaikan ekonomi secara tahunan (year-on-year) ini dipicu oleh performa impresif di lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum. Sektor yang berkaitan erat dengan aktivitas pariwisata tersebut mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor lainnya.
"Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 18,62 persen secara y-on-y," ujar Statistik Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, di Medan, Rabu (6/5/2026).
Selain dari sisi produksi, pertumbuhan juga terlihat dari sisi pengeluaran. Konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) menjadi motor penggerak dengan kenaikan mencapai 11,24 persen pada periode yang sama.
Sumut Masih Jadi Motor Penggerak Ekonomi Utama di Sumatera
Secara spasial, Sumatera Utara tetap memegang kendali sebagai provinsi dengan kontribusi ekonomi paling dominan di seluruh Pulau Sumatera. Sumut berhasil mengungguli provinsi tetangga yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah.
Data BPS menunjukkan kontribusi PDRB Sumatera Utara mencapai 23,50 persen terhadap total ekonomi di Sumatera. Angka ini menempatkan Sumut di posisi puncak, disusul oleh Riau dengan 23,29 persen, Sumatera Selatan 13,60 persen, dan Bengkulu sebesar 2,10 persen.
"Struktur ekonomi di Pulau Sumatera masih didominasi oleh Sumatera Utara. Hal ini menunjukkan peran strategis Sumut dalam menjaga stabilitas ekonomi regional," kata Misfaruddin menjelaskan posisi tawar provinsi tersebut.
Mengapa Ekonomi Sumut Terkontraksi Tipis di Awal Tahun?
Meskipun tumbuh secara tahunan, ekonomi Sumut terpantau mengalami kontraksi tipis sebesar 0,28 persen jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter). Penurunan ini dinilai sebagai siklus wajar yang kerap terjadi di setiap awal tahun anggaran.
Faktor utama penyebab kontraksi ini adalah melambatnya belanja pemerintah dan aktivitas di sektor kesehatan. Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) merosot tajam hingga 9,41 persen. Sementara dari sisi produksi, jasa kesehatan dan kegiatan sosial terkontraksi 8,54 persen.
Kondisi ini mencerminkan pola musiman di mana penyerapan anggaran daerah biasanya belum berjalan maksimal pada tiga bulan pertama. Kendati demikian, performa sektor swasta terutama di bidang akomodasi tetap mampu menjaga angka pertumbuhan tahunan tetap berada di jalur positif mendekati lima persen.