MEDAN — Kondisi loket penukaran mata uang asing atau money changer di Kota Medan menunjukkan kelesuan aktivitas transaksi dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya terlihat di Narasindo Money Changer yang berlokasi di Jalan Ir Juanda, di mana intensitas jual beli dolar AS menurun drastis dibandingkan periode normal.
Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah yang terjadi secara bertahap sejak berakhirnya masa libur Lebaran menjadi faktor utama lesunya pasar. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (6/5/2026), pergerakan harga yang tidak menentu membuat calon pembeli memilih untuk bersikap menunggu (wait and see).
Dampak Kenaikan Kurs: Warga Lebih Banyak Jual Dolar
Petugas di Penukaran Uang Narasindo mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga ini mulai terasa signifikan setelah Idulfitri. Kenaikan terpantau merangkak dari level Rp 17.200 hingga menyentuh angka Rp 17.500 pada hari ini.
“Cukup tinggi sih.. kenaikan dolar, dari mulai sehabis lebaran kemaren, kenaikan nya mulai dari Rp.17.200 hingga hari ini mencapai Rp. 17.500,” ujar salah seorang petugas di lokasi tersebut.
Kondisi pasar saat ini didominasi oleh masyarakat yang melepas simpanan dolar mereka untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga. Sebaliknya, minat masyarakat untuk membeli dolar AS menurun tajam karena harga yang dinilai terlalu tinggi bagi para pelaku perjalanan luar negeri maupun investor lokal.
“Karena naiknya nilai tukar, saat ini jarang orang melakukan jual-beli, namun kalau menjual uangnya masih ada, tapi kan kalau beli harga lebih masih tinggi juga,” tuturnya menambahkan.
Fluktuasi Nilai Tukar Dolar AS dalam Sepekan Terakhir
Meskipun di tingkat pedagang eceran harga menyentuh Rp 17.500, data pasar menunjukkan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di posisi 17.360,5 pada hari ini. Angka tersebut mencerminkan koreksi tipis sebesar -0,347 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Dalam kurun waktu tujuh hari terakhir, pergerakan mata uang Paman Sam ini sebenarnya relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,222 persen. Namun, volatilitas harian tetap tinggi dengan rentang pergerakan yang cukup lebar di pasar spot.
Data menunjukkan titik tertinggi nilai tukar terjadi pada 5 Mei 2026 di angka 17.448,5 per dolar AS. Sementara itu, titik terendah dalam sepekan terakhir tercatat pada 1 Mei 2026 yang sempat menyentuh level 17.305. Ketidakpastian arah pergerakan ini membuat pelaku usaha jasa penukaran uang sulit memprediksi tren jangka pendek.
“Kenaikan nilai tukar tidak bisa diprediksi, artinya Dolar AS naik turun nilai jual dan belinya,” pungkas petugas Narasindo tersebut.