TAPANULI UTARA — Desa Wisata Pulo Sibandang di Kabupaten Tapanuli Utara berhasil menembus jajaran 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Pencapaian ini mengukuhkan posisi Pulo Sibandang sebagai satu-satunya perwakilan Provinsi Sumatera Utara yang lolos kurasi ketat dari total 321 pendaftar tahun ini.
Kawasan wisata ini merupakan hasil kolaborasi tiga desa, yakni Desa Sibandang, Desa Papande, dan Desa Sampuran. Terletak di tengah Danau Toba, pulau ini terbentuk dari dampak letusan dahsyat Gunung Purba Toba sekitar 74.000 tahun silam. Saat ini, Pulo Sibandang diakui sebagai satu dari 16 geosite dalam Toba UNESCO Global Caldera Geopark.
Jejak Sejarah Raja Sorta Uluan dan Benteng Batu Purba
Pulo Sibandang menyimpan narasi sejarah Batak yang masih terjaga melalui keberadaan makam Raja Sorta Uluan dan sisa-sisa benteng batu. Wisatawan dapat menelusuri situs budaya ini melalui jalur trekking yang dipandu langsung oleh warga setempat. Cerita sejarah di sini bukan sekadar teks formal, melainkan tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat generasi ketiga.
Selain situs fisik, kekayaan budaya pulau ini terlihat pada pertunjukan Tari Hoda-Hoda. Atraksi ini unik karena dipadukan dengan Mossak, seni bela diri khas Toba, yang menampilkan ketangkasan sekaligus estetika gerak. Kehadiran festival seperti Festival Kaldera Toba pada Mei 2024 lalu terbukti memperkuat daya tarik budaya bagi pengunjung mancanegara.
Sentra Tenun Ulos Harungguan di Desa Papande
Desa Papande yang menjadi bagian dari kawasan ini dikenal sebagai pusat produksi ulos harungguan. Berbeda dengan produk tekstil pabrikan, ulos di sini masih diproduksi menggunakan alat tenun tradisional oleh tangan pengrajin lokal. Proses pembuatan yang rumit menjadikan kain ini sebagai buah tangan premium dengan nilai sejarah yang tinggi.
"Menyaksikan kain itu dibuat dari awal dengan alat tenun tradisional adalah pengalaman yang tidak bisa digantikan," demikian catatan daya tarik desa ini bagi para kolektor wastra Nusantara.
Sensasi Mangga Udang dan Wisata Solu Danau Toba
Sisi agrowisata Pulo Sibandang menonjolkan mangga udang, varietas lokal dengan cita rasa manis yang khas. Keunikan cara konsumsi masyarakat setempat yang memakan mangga bersama kulitnya menjadi pengalaman baru bagi wisatawan. Di pulau ini juga masih berdiri pohon-pohon mangga purba yang ditanam sejak zaman kolonial Belanda ratusan tahun lalu.
Untuk menikmati panorama Danau Toba, pengunjung dapat menyewa perahu kayu tradisional yang disebut solu. Mengelilingi pulau dengan solu memberikan perspektif berbeda dibandingkan pusat wisata Danau Toba yang lebih ramai. Suasana tenang dengan udara bersih menjadi nilai jual utama bagi mereka yang mencari ketenangan.
Aksesibilitas dan Fasilitas Menginap di Pulau
Perjalanan menuju Pulo Sibandang dari Kota Medan membutuhkan waktu sekitar tujuh jam. Wisatawan bisa menggunakan jasa travel menuju Bandara Silangit, lalu melanjutkan perjalanan darat ke Pelabuhan Muara. Dari arah Samosir, tersedia feri Muara Putih dengan waktu tempuh sekitar 45 menit menuju lokasi.
Pengelola desa wisata menyediakan fasilitas homestay milik warga bagi pengunjung yang ingin bermalam. Wisatawan disarankan melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat terkait tarif sewa perahu solu, paket trekking, dan jadwal pertunjukan budaya agar mendapatkan pelayanan maksimal.