SUMATERA UTARA — Lonjakan profitabilitas ini terjadi di tengah pendapatan konsolidasian yang relatif stabil di angka US$506,2 juta. Artinya, efisiensi operasional dan strategi produksi yang tepat sasaran menjadi kunci utama, bukan sekadar pertumbuhan pendapatan.
Direktur ABM Investama, Hans Manoe, menjelaskan bahwa harga batu bara yang tetap tinggi memberikan peluang bagi perseroan untuk memanfaatkan momentum melalui keunggulan operasional. "Meskipun kondisi industri masih menghadapi berbagai tantangan, harga batu bara yang tetap kondusif memberikan peluang bagi Perseroan untuk memanfaatkan momentum tersebut," ujarnya dalam keterangan resmi.
Volume Produksi Naik 14,2%
Dari sisi operasional, ABMM mencatatkan volume coal getting sebesar 17,9 juta ton pada paruh pertama tahun ini, tumbuh 14,2% secara tahunan. Kenaikan ini disumbang oleh peningkatan produksi di salah satu lokasi tambang di Kalimantan Selatan serta ramp-up produksi di tambang Aceh yang mulai berjalan pada kuartal II-2026.
Adapun pendapatan yang stabil di tengah kenaikan volume produksi mengindikasikan bahwa perseroan tetap disiplin dalam pengelolaan biaya. Adjusted EBITDA pun tercatat naik 6,4% menjadi US$346,9 juta, menunjukkan kesehatan fundamental bisnis yang membaik.
Bisnis Kontraktor Tambang Ikut Stabil
Selain dari sektor pertambangan, lini bisnis jasa kontraktor pertambangan ABMM juga menunjukkan perbaikan indikator operasional. Stabilitas ini menjadi penopang tambahan bagi kinerja keuangan perseroan di tengah fluktuasi harga komoditas.
Di sisi logistik, anak usaha ABMM berhasil mengamankan kontrak jasa logistik jangka panjang dari salah satu pelanggan utamanya. Perolehan kontrak ini memperkuat visibilitas pendapatan perseroan untuk periode mendatang dan mengurangi ketergantungan pada bisnis yang sifatnya spot.
Target Perizinan Tambang Baru di Kalteng
Memasuki semester II-2026, ABMM memperkirakan produksi dari tambang Aceh akan terus meningkat seiring dengan ramp-up yang berkelanjutan. Perseroan juga tengah menuntaskan proses perizinan untuk aset tambang batu bara baru di Kalimantan Tengah yang ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.
Langkah ekspansi ini menunjukkan bahwa ABMM tidak hanya mengandalkan momentum harga jangka pendek, tetapi juga menyiapkan peta jalan pertumbuhan jangka panjang. Dengan tambahan aset baru dan kontrak logistik yang lebih solid, perseroan berupaya memperkuat posisinya di tengah persaingan industri batu bara nasional yang ketat.
Kinerja positif ini sejalan dengan tren pemulihan industri batu bara yang memanfaatkan tingginya harga bahan bakar global. Bagi investor, lonjakan laba bersih ini menjadi sinyal bahwa strategi diversifikasi ABMM antara sektor pertambangan dan jasa kontraktor mulai membuahkan hasil.