Pencarian

185 Hektare Sawah Tertimbun Lumpur di Batangtoru, Penyintas Banjir Bandang Tapsel Menadahkan Kardus di Pinggir Jalan

Sabtu, 19 September 2026 • 09:32:31 WIB
185 Hektare Sawah Tertimbun Lumpur di Batangtoru, Penyintas Banjir Bandang Tapsel Menadahkan Kardus di Pinggir Jalan

TAPANULI SELATAN — Kardus bekas itu diangkat setinggi dada. Di baliknya, sepasang tangan perempuan menunggu uluran dari orang-orang yang melintas. Satu kendaraan lewat, kemudian kendaraan berikutnya. Sesekali ada yang memperlambat laju, membuka kaca, dan menyelipkan sejumlah uang ke dalam kardus yang ditadahkan.

Pemandangan itu terlihat di pinggir jalan dekat jembatan Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Mereka adalah penyintas banjir bandang yang menerjang kawasan Batangtoru pada 25 November 2025. Air memang telah surut, tetapi kehidupan mereka belum kembali seperti semula.

Sawah yang Dulu Jadi Tumpuan Kini Tertimbun Lumpur 80-150 Sentimeter

Data Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Batangtoru menunjukkan sedikitnya 185 hektare areal persawahan terdampak banjir bandang. Kerusakan tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Desa Garoga, Pulau Godang (Telo), Aek Ngadol, Sumuran, Hapesong Baru, dan Wek I Batangtoru.

Koordinator BPP Batangtoru Eri Syahruddin menyebut material lumpur yang menimbun lahan persawahan memiliki ketebalan antara 80 hingga 150 sentimeter.

"Ketebalan lumpur antara 80 sentimeter hingga 150 sentimeter sehingga menyulitkan pola tanam padi," ujarnya.

Sebelum air bah datang, sebagian warga menggantungkan hidup pada sawah dan kebun. Setiap hari mereka bekerja, menanam, merawat, lalu menunggu panen. Sawah adalah tempat mencari makan, kebun adalah sumber penghasilan, sekaligus tumpuan untuk membesarkan keluarga.

Kini, banyak lahan itu berubah menjadi hamparan lumpur. Arus banjir membawa pasir, batu, dan batang kayu, lalu menumpahkannya ke lahan pertanian. Sebagian sawah terkikis, sebagian lain tertimbun material dengan ketebalan yang membuatnya sulit kembali ditanami.

Mengapa Warga Bertahan dengan Pekerjaan Serabutan

Sejumlah petani masih berusaha mencari celah. Di lahan yang memungkinkan, mereka menanam jagung, kacang-kacangan, dan tanaman lainnya. Sebagian lain meninggalkan sawah sementara dan beralih ke pekerjaan serabutan demi menyambung hidup.

Kepala Desa Garoga Risman Rambe mengaku prihatin melihat keadaan warganya.

"Saya juga miris. Mau bilang apa lagi, sawah dan kebun sudah tidak bisa digarap atau belum produktif lagi. Mata pencarian mereka sudah hilang. Sementara mereka dan keluarga ingin hidup," katanya.

Pekerjaan serabutan bukanlah kepastian. Hari ini mungkin ada pekerjaan, besok belum tentu. Dalam situasi seperti itulah sebagian penyintas memilih berdiri di tepi jalan, menadahkan kardus. Bukan karena tidak mau bekerja, tetapi karena sumber kehidupan yang selama ini mereka miliki belum kembali.

Kebutuhan Rumah Tangga Tak Ikut Hanyut

Yang tersisa justru kebutuhan hidup yang tidak ikut hanyut. Anak-anak tetap harus makan. Kebutuhan rumah tangga tetap datang. Biaya sekolah tidak berhenti. Sementara pekerjaan yang selama ini menjadi sandaran sudah hilang.

Bagi pengguna jalan yang melintas di Garoga, pemandangan kardus terangkat mungkin hanya terlihat beberapa detik dari balik kaca kendaraan. Uang berpindah tangan, kendaraan kembali melaju. Namun bagi para penyintas, beberapa detik itu adalah bagian dari perjuangan hidup yang berlangsung setiap hari.

Banjir bandang 25 November 2025 telah berlalu. Tetapi bagi mereka yang kehilangan sumber penghidupan, bencana itu belum selesai. Air memang telah surut dari jalan dan permukiman. Namun hingga kini, sebagian penyintas masih berjuang mengangkat hidupnya kembali dari pinggir jalan, dengan sebuah kardus di tangan.

Follow monitorsumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumut.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks