SUMATERA UTARA — Indonesia dan Kanada menyepakati percepatan implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang dijadwalkan berlaku akhir tahun ini. Kesepakatan dicapai dalam pertemuan bilateral Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan Internasional Kanada Maninder Sidhu di sela Canada Investment Summit, Toronto. Ekspor Indonesia ke Kanada diproyeksikan melonjak hingga USD11,8 miliar pada 2030 seiring penghapusan tarif lebih dari 90 persen pos tarif Kanada untuk produk Indonesia.
Pertemuan bilateral tersebut membahas sejumlah tantangan implementasi ICA-CEPA, mulai dari penyesuaian persyaratan standardisasi, praktik keberlanjutan dan ketenagakerjaan, hingga penguatan kapasitas UMKM agar mampu memanfaatkan peluang pasar baru. Kedua negara juga menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur logistik dan fasilitasi perdagangan agar Indonesia tetap kompetitif di pasar Amerika Utara.
"Pertemuan hari ini menegaskan komitmen bersama Indonesia dan Kanada untuk memastikan ICA-CEPA benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha di kedua negara," kata Menko Airlangga dalam keterangan resminya.
Perdagangan Bilateral Tumbuh 13 Persen pada Semester I 2025
Airlangga menyampaikan hubungan dagang Indonesia-Kanada tumbuh stabil sejak 2021 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 9,13 persen. Total perdagangan kedua negara pada Semester I 2025 tercatat USD3,1 miliar, naik 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadi basis proyeksi kenaikan ekspor Indonesia ke Kanada hingga USD11,8 miliar pada 2030. Proyeksi itu sejalan dengan struktur ICA-CEPA yang akan menghapus atau menurunkan tarif pada lebih dari 90 persen pos tarif Kanada untuk produk Indonesia, dan sebaliknya oleh Indonesia untuk hampir 86 persen pos tarif produk Kanada.
Hilirisasi Mineral Kritis hingga Jasa Keuangan Jadi Sektor Prioritas
Sejumlah sektor strategis dibuka lebar dalam kerja sama ini, mulai dari hilirisasi mineral kritis, energi bersih, agripangan dan perikanan berkelanjutan, infrastruktur, hingga jasa keuangan dan digital. Pemerintah menilai ICA-CEPA bukan sekadar perjanjian dagang, melainkan instrumen strategis yang memperluas keterlibatan Kanada di kawasan Indo-Pasifik.
Perjanjian ini juga membuka gerbang bagi penguatan jaringan dagang Kanada dengan ASEAN. Bagi Indonesia, posisi sebagai pintu masuk Kanada ke Asia Tenggara berpotensi memperkuat daya tawar dalam negosiasi dagang kawasan.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan UMKM
Pemerintah mendorong peningkatan kapasitas UMKM agar mampu memanfaatkan peluang pasar baru yang terbuka dari ICA-CEPA. Kedua pihak sepakat memastikan manfaat perjanjian dirasakan secara merata, tidak hanya oleh korporasi besar.
Bagi eksportir, penurunan tarif berarti margin lebih tebal dan daya saing produk Indonesia di pasar Kanada meningkat. Namun, penyesuaian persyaratan standardisasi menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum perjanjian berlaku efektif.
Perjanjian Dagang Pertama Indonesia dengan Amerika Utara
ICA-CEPA merupakan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif pertama Indonesia dengan negara di kawasan Amerika Utara, yang diresmikan pada September 2025. Perjanjian ini diharapkan memperkuat hubungan ekonomi kedua negara serta membuka akses pasar, investasi, dan kerja sama yang lebih luas dengan mitra strategis di Amerika Utara.
Airlangga menekankan kesiapan implementasi ICA-CEPA perlu menjadi prioritas bersama, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan pelaku usaha di kedua negara.