Pencarian

Trump Batal Pungut Biaya 20% Kapal di Selat Hormuz, Negara Teluk Ganti dengan Investasi Jumbo ke AS

Kamis, 16 Juli 2026 • 10:23:31 WIB
Trump Batal Pungut Biaya 20% Kapal di Selat Hormuz, Negara Teluk Ganti dengan Investasi Jumbo ke AS
Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pungutan biaya 20 persen bagi kapal di Selat Hormuz setelah mencapai kesepakatan investasi dengan negara-negara Teluk.

SUMATERA UTARA — Dalam unggahan di akun Truth Social, Kamis (16/7/2026), Trump menyatakan pembatalan biaya penggantian 20% untuk AS itu hasil dari pembicaraan produktif dengan para pemimpin Timur Tengah. "Saya memutuskan mengganti biaya tersebut dengan kesepakatan perdagangan dan investasi yang akan dilakukan berbagai negara Teluk di AS," tulis Trump, dikutip dari Fox Business.

Operasi Militer AS Pulihkan Arus Energi

Trump menjelaskan, pasokan energi kini kembali mengalir lancar berkat operasi militer AS di kawasan. Jalur Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab sebelumnya terganggu akibat meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.

Meski rencana pungutan dibatalkan, Washington tetap memberlakukan blokade penuh terhadap kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran maupun kapal pengangkut muatan asal Iran. Kebijakan ini memastikan tekanan terhadap Teheran tetap berlangsung.

Dampak Bagi Pasar Energi Global

Keputusan Trump mengubah arah kebijakan yang sempat mengancam stabilitas biaya logistik minyak dunia. Selat Hormuz menampung sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global. Rencana pungutan 20% sebelumnya dikhawatirkan akan mendongkrak biaya pengiriman dan harga energi.

Dengan dibatalkannya biaya tersebut, tekanan terhadap ongkos pengiriman minyak mentah dan LNG diperkirakan mereda. Namun, blokade terhadap kapal Iran masih menyisakan ketidakpastian pasokan dari negara anggota OPEC tersebut.

Investasi Jumbo Negara Teluk ke AS

Kesepakatan investasi yang diraih AS menjadi kompensasi utama atas batalnya pungutan. Nilai dan rincian sektor investasi belum diumumkan secara resmi oleh Gedung Putih. Namun, langkah ini lazim digunakan AS untuk memperkuat aliansi ekonomi dengan mitra di kawasan Teluk, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Bagi pelaku bisnis dan investor, perubahan kebijakan ini menandakan pergeseran strategi Washington dari pendekatan pungutan langsung menuju skema kerja sama investasi bilateral. Hal ini berpotensi membuka peluang bagi perusahaan AS di sektor infrastruktur, energi, dan teknologi untuk mendapatkan suntikan dana segar dari negara-negara Teluk.

Investasi mengandung risiko.

Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks