MEDAN — Roberto Martinez memutuskan mundur dari kursi pelatih Timnas Portugal setelah timnya gagal melaju ke perempat final Piala Dunia 2026. Kekalahan 0-1 dari Spanyol di babak 16 besar menjadi titik akhir perjalanan pelatih asal Spanyol berusia 52 tahun tersebut.
Alasan Martinez Mundur: Target Juara Tak Tercapai
Dalam konferensi pers usai laga, Martinez mengaku bahwa misinya sejak awal menerima pekerjaan adalah memenangkan Piala Dunia. "Saya datang ke Portugal untuk memenangkan Piala Dunia. Jika saya tidak mencapai itu, maka melanjutkan tidak ada artinya," ujarnya seperti dikutip Reuters. Kontraknya telah berakhir pada hari pertandingan melawan Spanyol, dan ia menilai waktu ini tepat bagi Federasi Sepak Bola Portugal untuk mencari pengganti.
Kritik soal Ronaldo: Striker 41 Tahun Tetap Dimainkan Penuh
Keputusan Martinez untuk tidak menarik keluar Cristiano Ronaldo selama 90 menit penuh menuai kritik. Striker berusia 41 tahun itu dianggap kurang efektif, sementara Goncalo Ramos yang mencetak gol penentu kemenangan melawan Kroasia di babak sebelumnya justru tidak dimainkan. Namun, Martinez membela pilihannya. “Ketika tim membutuhkan gol, Anda tidak bisa menarik keluar penyerang tengah dan striker terbaik Anda. Ronaldo cukup fit dan setiap tembakan di kotak penalti membutuhkan pengalamannya,” tegasnya.
Martinez juga mengakui bahwa Ramos bisa menjadi pilihan jika laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Namun, gol telat dari pemain Spanyol, Merino, menghancurkan rencana tersebut sekaligus mimpi terakhir Ronaldo di Piala Dunia. Sebelumnya, Ronaldo telah menyatakan bahwa Piala Dunia 2026 adalah turnamen besar terakhirnya bersama tim nasional.
Martinez Puji Dedikasi Ronaldo: 'Dia Ikon dan Panutan'
Di tengah kritik, Martinez tak henti-hentinya memuji kapten timnya. “Ronaldo adalah kapten yang patut dicontoh. Bukan hanya karena jumlah gol atau statistiknya, tetapi juga karena dedikasinya setiap hari, cara dia menjalani dan menghayati sepak bola. Dia adalah ikon, panutan yang harus kita hargai,” ujar Martinez dalam pernyataan perpisahannya.
Martinez menambahkan bahwa kekalahan di babak 16 besar bukanlah kegagalan total. “Kami bermain setara dengan salah satu kandidat juara. Saya sangat bangga dengan karakter dan fokus para pemain. Kami kalah karena detail kecil di saat-saat terakhir,” katanya.