TANJUNGBALAI — Wali Kota Mahyaruddin Salim Batubara terbang ke Arab Saudi untuk bertemu langsung dengan jemaah haji asal Kota Tanjungbalai. Pertemuan berlangsung di hotel tempat jemaah kloter 11 menginap, Rabu (3/6/2026) malam waktu Arab Saudi.
Sebanyak 129 jemaah ditambah satu ketua kloter, Fadlin Gea yang juga Kepala Kantor Kementerian Agama Nias Selatan, menyambut kehadiran wali kota dengan rasa syukur. “Alhamdulillah seluruh jemaah haji Kota Tanjungbalai sehat tanpa ada kendala yang berarti dalam melaksanakan ibadah haji tahun 2026/1447H ini,” ungkap Mahyaruddin.
Wali Kota mengingatkan bahwa puncak ibadah haji—bermalam di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna)—memerlukan tenaga ekstra. Ia menyebut aturan di Arab Saudi bisa berubah kapan saja, termasuk kewajiban berjalan berkilo-kilometer untuk mengerjakan rukun haji secara mandiri.
“Jamaah harus tetap bahagia, banyak bersyukur, makan dan minum yang cukup serta menjaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri karena perjalanan ibadah masih panjang,” katanya saat bertemu jemaah.
Mahyaruddin mengingatkan bahwa menunaikan haji bukan sekadar keinginan pribadi. Ia menyebut daftar tunggu haji reguler di Indonesia mencapai 25 hingga 30 tahun. Karena itu, setiap jemaah harus benar-benar menjaga keabsahan ibadahnya.
“Melaksanakan haji bukan persoalan mau saja karena panggilan Allah menunaikan rukun islam yang ke 5. Perlu dipahami rangkaian ibadah haji hanya satu kali dalam setahun, jangan sampai batal,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa jika ada rukun haji yang tidak bisa dikerjakan sendiri, jemaah bisa membayar dam (denda) sebagai pengganti. “Kalau wajib haji bisa digantikan oleh orang lain, istilahnya bayar denda (DAM) pada puncak haji yang sangat berat,” sebutnya.
Di sela pertemuan, wali kota mendengar langsung masukan dari para jemaah. “Saat mendengar cerita dari bapak/ibu saya, banyak masukan yang menjadi bahan evaluasi pelaksanaan ibadah haji tahun depan dan harapan jemaah tentu beragam,” ujarnya.
Pertemuan ini menjadi tradisi tahunan Pemkot Tanjungbalai untuk memastikan warganya yang menunaikan ibadah haji mendapat pendampingan maksimal, terutama menjelang puncak ibadah yang paling berat secara fisik. Seluruh jemaah dilaporkan dalam kondisi sehat dan siap menjalani rangkaian Armuzna.