PEMATANGSIANTAR — Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi secara resmi meminta jajaran pengelola rumah sakit di wilayahnya untuk berbenah. Ajakan ini bukan sekadar imbauan seremonial, melainkan bagian dari tekanan publik yang mulai meningkat terhadap kualitas layanan kesehatan primer dan rujukan di kota berpenduduk sekitar 260 ribu jiwa itu.
Dalam pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan dari rumah sakit pemerintah maupun swasta, Wesly menekankan bahwa pelayanan yang ramah, cepat, dan transparan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. "Kami ingin rumah sakit di Pematangsiantar benar-benar menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi warga," ujarnya.
Mengapa Wali Kota Turun Tangan Langsung?
Langkah Wesly menyuarakan langsung soal standar pelayanan mengindikasikan adanya tekanan dari bawah. Selama beberapa bulan terakhir, keluhan warga mengenai antrean panjang, kurangnya informasi biaya, hingga sikap tenaga kesehatan menjadi sorotan di media sosial dan forum-forum warga. Pemkot pun mulai mengumpulkan data evaluasi dari Dinas Kesehatan setempat untuk dijadikan bahan perbaikan.
Wesly menegaskan, peningkatan pelayanan tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Rumah sakit swasta, yang jumlahnya cukup signifikan di Pematangsiantar, juga diminta berperan aktif. Ia menyebut bahwa persaingan sehat antar rumah sakit justru akan menguntungkan masyarakat.
Apa yang Diminta Wali Kota?
Dalam pertemuan tersebut, ada beberapa poin utama yang ditekankan Wesly kepada para direktur rumah sakit. Pertama, percepatan waktu tunggu pasien di unit gawat darurat (UGD) dan poliklinik. Kedua, transparansi biaya sejak awal pendaftaran. Ketiga, peningkatan sikap dan komunikasi tenaga kesehatan terhadap pasien dan keluarga.
- Percepatan penanganan pasien di UGD dan rawat jalan menjadi prioritas.
- Biaya pengobatan harus jelas dan bisa diakses pasien sejak awal.
- Tenaga kesehatan diminta lebih humanis dalam melayani masyarakat.
Dampak Langsung bagi Warga Pematangsiantar
Jika arahan ini benar-benar dijalankan, warga Pematangsiantar bisa menikmati layanan kesehatan yang lebih efisien. Selama ini, banyak pasien dari daerah sekitar—seperti Simalungun dan Toba—juga memilih berobat ke Pematangsiantar karena fasilitasnya lebih lengkap. Artinya, perbaikan di kota ini berdampak pada akses kesehatan masyarakat di kawasan timur Sumatera Utara.
Wesly juga mengingatkan bahwa Pemkot akan melakukan pemantauan secara berkala. "Kami tidak ingin hanya seremonial. Akan ada evaluasi dan tindak lanjut dari Dinas Kesehatan," katanya.
Bagaimana dengan Rumah Sakit yang Tak Segera Berbenah?
Pemkot belum menyebutkan sanksi tegas bagi rumah sakit yang abai terhadap imbauan ini. Namun, Wesly mengisyaratkan bahwa data keluhan masyarakat akan menjadi dasar penilaian. Rumah sakit dengan tingkat keluhan tinggi bisa kehilangan kepercayaan publik, yang pada akhirnya mempengaruhi jumlah kunjungan pasien.
Langkah Wali Kota ini menjadi sinyal bahwa pelayanan publik, khususnya di sektor kesehatan, sedang menjadi prioritas utama pemerintah kota. Bagi warga Pematangsiantar, ini adalah kabar baik yang perlu ditagih realisasinya.