SUMATERA UTARA — Menjadi perempuan bekerja sekaligus ibu rumah tangga memang terasa seperti menjalankan dua peran sekaligus. Angka partisipasi kerja perempuan yang tembus 56 persen dan 32 persen di antaranya berstatus pengusaha (BPS) menunjukkan kontribusi nyata di ranah publik. Namun, di rumah, stereotip lama masih membebani: urusan domestik tetap dianggap tanggung jawab utama istri, meski ia sudah berkontribusi secara finansial.
Alih-alih terus merasa lelah dan terbagi, pendekatan Neuroparenting yang dipopulerkan dr. Aisah Dahlan menawarkan cara pandang baru. Pendekatan ini tidak sekadar soal mengasuh anak, melainkan strategi merombak dinamika keluarga agar menjadi 'unit produksi' yang efisien dan harmonis.
Memahami Perbedaan Otak untuk Meredakan Konflik
Sering kali pertengkaran suami-istri terjadi bukan karena masalah besar, tapi karena cara berpikir yang berbeda. Suami yang cenderung analitis dan mencari solusi cepat, sementara istri lebih membutuhkan koneksi emosional dan didengarkan. Perbedaan ini bukan cacat, melainkan desain yang perlu dipahami.
Ketika pasangan saling memahami bahwa cara kerja otak mereka memang berbeda, energi yang tadinya terkuras untuk berdebat bisa dialihkan untuk hal yang lebih produktif. Anak pun tumbuh di lingkungan yang lebih tenang dan positif, sehingga perkembangan emosionalnya pun lebih sehat.
Membagi Peran Berdasarkan Kepribadian, Bukan Gender
Keadilan dalam rumah tangga tidak selalu berarti pembagian 50:50. Justru, pembagian yang cerdas adalah berdasarkan kekuatan dan kepribadian masing-masing pasangan. Pendekatan ini menciptakan sinergi yang membuat rumah tangga berjalan lebih efektif.
Misalnya, jika suami memiliki kepribadian analitis dan tegas, ia cocok mengelola perencanaan keuangan keluarga. Sementara itu, istri yang intuitif dan komunikatif bisa fokus pada pendidikan anak dan pengelolaan hubungan sosial. Dengan cara ini, tidak ada yang merasa terbebani karena masing-masing bekerja sesuai dengan keahliannya.
Mengisi 'Tangki Cinta' untuk Mengurangi Stres
Konsep 5 Love Languages dari Gary Chapman sering dianggap sebagai teori romantis belaka. Padahal, dalam konteks ekonomi keluarga, ini adalah strategi penting. Ketika 'tangki cinta' setiap anggota keluarga terisi dengan baik, tingkat stres menurun drastis dan produktivitas meningkat.
Anak yang merasa dicintai dan dipahami akan tumbuh menjadi sumber daya manusia (SDM) yang tangguh secara mental dan emosional. Ibu yang merasa dihargai suaminya akan lebih percaya diri dalam berkarier, tanpa dibebani rasa bersalah berlebihan terhadap anak-anaknya.
Mendorong Tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Pendekatan ini bukan hanya soal kebahagiaan rumah tangga, tapi juga implementasi nyata dari agenda global. Kesetaraan gender (SDG 5) terwujud ketika suami terlibat aktif dalam pengasuhan tanpa merasa identitasnya terancam. Pekerjaan layak (SDG 8) tercapai ketika perempuan didukung penuh untuk berwirausaha atau berkarier.
Seminar "70 Tahun Mencerdaskan Bangsa" yang menghadirkan dr. Aisah Dahlan di Auditorium Universitas Andalas menjadi salah satu wujud nyata bahwa institusi pendidikan mulai serius mengedepankan isu ini. Namun, perubahan terbesar harus dimulai dari kesadaran di rumah masing-masing.
Peran ganda perempuan bukanlah kutukan, melainkan investasi strategis untuk membangun SDM unggul. Dengan fondasi keluarga yang harmonis dan saling mendukung, perempuan Indonesia bisa menjadi penggerak utama roda ekonomi tanpa harus mengorbankan kehangatan rumah tangganya.