SUMATERA UTARA — Sebelum turbo geometri variabel dan mild-hybrid menjadi solusi mainstream, insinyur Volvo bereksperimen dengan cara yang lebih radikal. Sistem yang dipasang pada Volvo 760 Turbo itu memanfaatkan udara bertekanan dari kompresor yang digerakkan mesin, lalu menyimpannya di tangki baja. Udara tersebut baru dilepaskan saat pedal gas diinjak dari posisi tertutup, mengisi celah kevakuman sebelum gas buang sempat memutar turbo.
Mengapa Sistem Ini Dibutuhkan pada Era 1980-an
Turbocharger generasi awal punya kelemahan mendasar: butuh waktu bagi gas buang untuk mencapai kecepatan yang cukup. Fenomena ini yang membuat pengemudi merasakan tenaga "meledak" secara tiba-tiba di putaran menengah, bukan respons langsung sejak putaran bawah.
Volvo menawarkan solusi bernama "TurboBoost" yang memanfaatkan udara terkompresi untuk mengisi kekosongan tersebut. Ketika throttle dibuka, udara bertekanan tinggi langsung mendorong turbin, membuat putaran mesin naik lebih cepat dan turbo mencapai tekanan boost penuh hampir tanpa jeda.
Dampak Nyata pada Performa Berkendara
Hasilnya cukup impresif untuk zamannya. Akselerasi dari kondisi melambat menjadi lebih responsif, dan sensasi turbo lag yang biasanya terasa di bawah 2.500 rpm bisa ditekan drastis. Pengemudi tidak perlu lagi menebak kapan tenaga akan datang.
Namun sistem ini punya konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Kompresor tambahan, tangki bertekanan, dan katup solenoid menambah bobot serta kerumitan. Ruang mesin Volvo 760 yang lega pun jadi lebih sempit, dan biaya produksi meningkat signifikan.
Faktor yang Membuat Teknologi Ini Ditinggalkan
Masalah terbesar bukan pada performa, melainkan keandalan dan biaya. Tangki udara bertekanan membutuhkan perawatan ekstra, kompresor rentan aus, dan sistem kontrolnya kompleks untuk standar mobil produksi massal. Dealer Volvo harus melatih teknisi khusus, dan pemilik dihadapkan pada biaya perbaikan yang tidak murah.
Di saat yang sama, perkembangan turbo geometri variabel menawarkan solusi lebih elegan. Kompetitor Jepang dan Jerman mulai mengadopsi teknologi yang mengubah sudut bilah turbin secara mekanis tanpa perlu komponen tambahan sebesar itu. Volvo sendiri akhirnya beralih ke jalur konvensional dan menghentikan sistem udara terkompresi ini secara diam-diam.
Meski gagal menjadi tren, eksperimen Volvo ini membuktikan bahwa produsen Eropa serius mencari cara menghilangkan kelemahan turbo. Pendekatan yang berbeda itu kini menjadi materi diskusi menarik bagi penggemar sejarah otomotif, terutama mereka yang penasaran dengan jalan pintas teknis yang tidak pernah diikuti pabrikan lain.