PEMATANGSIANTAR — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pematangsiantar menggelar silaturahmi dan dialog kerukunan bertema "Kerukunan sebagai Fondasi Bangsa untuk Membangun Kota Pematangsiantar yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras". Acara yang berlangsung di Convention Hall Siantar Hotel itu dibuka langsung oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Muhammad Hamdani Lubis, mewakili Wali Kota Wesly Silalahi.
Peringkat ke-4 Kota Toleransi: Prestasi yang Harus Dirawat
Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada FKUB yang terus berkomitmen memperkuat kerukunan antar umat beragama di Pematangsiantar. Menurutnya, pencapaian kota ini sebagai peringkat keempat Kota Toleransi di Indonesia bukanlah hal yang bisa diraih secara instan.
"Kerukunan harus dirawat melalui komunikasi, silaturahmi, saling menghormati, dan saling memahami," demikian pesan yang disampaikan Wali Kota dalam dialog tersebut.
Prestasi tersebut, lanjutnya, merupakan hasil kerja panjang seluruh elemen masyarakat. Karena itu, mempertahankan dan meningkatkan peringkat ini menjadi tanggung jawab moral bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau FKUB semata.
Keberagaman sebagai Kekuatan, Bukan Pemicu Perpecahan
Pematangsiantar dikenal sebagai kota dengan keberagaman suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan. Kondisi ini disebut sebagai modal sosial yang sangat berharga, sekaligus tantangan yang harus dikelola dengan bijaksana.
Wali Kota berharap FKUB dapat terus berperan sebagai ruang bersama untuk berdialog dan membangun komunikasi antar umat beragama. Keberadaan forum ini dinilai strategis untuk menyelesaikan berbagai persoalan secara bijaksana sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
"Membangun komunikasi dan menyelesaikan berbagai persoalan secara bijaksana sebelum berkembang menjadi konflik," demikian harapan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Dialog Rutin untuk Memperkuat Tali Silaturahmi
Kegiatan dialog dan silaturahmi seperti ini diharapkan menjadi agenda rutin yang tidak hanya seremonial belaka. Melalui pertemuan semacam ini, setiap persoalan yang muncul di masyarakat dapat dibicarakan secara terbuka dan dicarikan solusi terbaiknya.
Kehadiran FKUB sebagai wadah komunikasi antar umat beragama menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan dialog yang intensif, potensi gesekan sosial dapat diminimalisir sejak dini.
Pemerintah Kota Pematangsiantar menegaskan dukungan penuhnya terhadap program dan kegiatan FKUB ke depan. Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga iklim toleransi yang sudah terbangun selama ini.