SUMATERA UTARA — Pemerintah mempercepat transformasi korporasi di sektor logistik dengan menunjuk PT Multi Terminal Indonesia (MTI) sebagai surviving entity atau entitas yang akan menaungi perusahaan-perusahaan BUMN lain. Langkah ini merupakan tahap awal pembentukan holding logistik BUMN yang selama ini dinanti.
Integrasi, Bukan Sekadar Merger
Praktisi Logistik dan Supply Chain, Fauzan Fadel, B.Eng, MBA, menilai keputusan ini sebagai salah satu langkah transformasi korporasi paling strategis dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kombinasi kompetensi dari masing-masing entitas yang bergabung merupakan modal kuat untuk membangun perusahaan logistik nasional yang lebih efisien dan kompetitif.
"Sebagai pelaku usaha di sektor logistik dan supply chain, saya melihat holding logistik BUMN memiliki peluang besar menjadi National Logistics Champion," ujar Fauzan dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).
Namun, ia menekankan bahwa merger hanyalah langkah pertama. Tantangan sesungguhnya adalah mengintegrasikan aset, pelanggan, sumber daya manusia, dan budaya kerja menjadi satu organisasi yang mampu menciptakan nilai tambah. "Tantangannya bukan lagi bagaimana menggabungkan perusahaan, tetapi bagaimana mengubah tujuh kekuatan tersebut menjadi satu mesin pertumbuhan baru," tegasnya.
Sembilan Prioritas Direksi di 100 Hari Pertama
Fauzan menjabarkan sembilan keputusan strategis yang harus menjadi prioritas direksi holding dalam 100 hari pertama. Dua di antaranya dinilai paling krusial untuk memastikan transformasi berjalan di atas fakta, bukan asumsi.
Pertama, audit total aset logistik nasional. Menurut Fauzan, langkah awal yang wajib dilakukan adalah memetakan seluruh aset yang dimiliki holding, mulai dari gudang, terminal, armada, hingga alat berat. "Direksi perlu mengetahui secara pasti tingkat utilisasi masing-masing aset, aset yang produktif, serta aset yang masih dapat dioptimalkan. Tanpa data tersebut, transformasi akan berjalan berdasarkan asumsi, bukan fakta," paparnya.
Kedua, membentuk holding commercial office. Selama ini, pelanggan masih berhubungan langsung dengan masing-masing perusahaan anggota holding. Akibatnya, efisiensi layanan logistik belum maksimal. Fauzan mendorong agar holding segera memiliki satu organisasi komersial terpadu. "Ke depan, holding logistik BUMN perlu memiliki satu organisasi komersial yang menangani seluruh pelanggan strategis nasional sehingga mampu menawarkan layanan logistik secara terintegrasi," jelasnya.
Langkah-langkah lain yang direkomendasikan mencakup standardisasi sistem teknologi informasi, harmonisasi budaya perusahaan, hingga optimalisasi rute distribusi antar-pulau. Seluruh rekomendasi ini diharapkan dapat mempercepat realisasi sinergi yang selama ini menjadi janji utama pembentukan holding BUMN.