BALIGE — Di Kilometer 2 jalur lintas Parapat-Balige, tepatnya di Desa Sibola Hotangsas, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, berdiri Hutanta Coffee & Resto. Tempat ini bukan sekadar kafe biasa. Ia adalah simbol kebangkitan kopi lokal Toba yang berhasil menyulap persepsi lama tentang kopi Arabika.
Eko Pardede, pemilik usaha, menceritakan bahwa perjalanan bisnisnya tidak dimulai dari kopi. “Perjalanan usaha ini sebenarnya bermula dari Batikta, toko oleh-oleh khas Batak yang kami dirikan pada 2011. Batikta menjual berbagai produk budaya Batak, termasuk kain dan batik bermotif khas Batak,” ujarnya.
Dari Toko Oleh-Oleh ke Kafe Modern Pertama di Toba
Pada 2017, Eko mendapatkan pembiayaan dari BRI. Dukungan itu ia gunakan untuk membangun gedung baru yang kini menjadi lokasi Batikta di lantai pertama dan Hutanta Coffee di lantai dua. Setahun berselang, pada 2018, Hutanta Coffee resmi beroperasi dan menjadi salah satu kafe modern pertama di Toba yang menyajikan kopi berbasis espresso.
Nama “Hutanta” berasal dari bahasa Batak yang berarti Kampung Kita. Nama ini telah digunakan Eko dan adiknya, Trisnayanti Pardede, sejak 2012 dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya di kawasan Danau Toba sebagai bentuk kecintaan terhadap daerah asalnya.
Menggali Potensi Kopi Arabika yang Terlupakan
Saat awal merintis, Eko mengaku sempat membeli kopi dari Medan. Namun, rasa penasarannya mendorongnya melakukan riset tentang keberadaan kopi Arabika di wilayah Toba. Hasil penelusurannya menemukan bahwa kopi Arabika tumbuh di sejumlah wilayah seperti Sibisa, Parsoburan, Tangga Batu, dan kawasan Tampahan.
“Saya bawa green bean dari Toba ke Jakarta untuk di-roasting. Ternyata hasilnya enak. Tingkat keasamannya tidak terlalu tinggi dan lebih nyaman untuk lidah orang Indonesia,” katanya.
Temuan ini menjadi titik balik. Eko menyadari bahwa ada anggapan keliru di masyarakat bahwa kopi Arabika seperti Ateng atau Sigarar Utang tidak cocok diminum. “Setelah dicoba dan diolah dengan baik, ternyata kualitasnya sangat bagus,” ujarnya.
Kemitraan dengan Petani dan Sertifikasi Halal
Untuk menjaga kualitas bahan baku, Hutanta Coffee bekerja sama dengan pengepul dan pembina petani kopi di wilayah Tangga Batu dan Tampahan. Sistem kemitraan ini penting karena petani umumnya menjual kopi dalam kondisi basah sehingga masih memerlukan proses pengeringan sebelum siap dipasarkan.
“Kami bekerja sama dengan pengepul yang memiliki fasilitas pengeringan dan greenhouse. Dari situlah pasokan kopi untuk Hutanta Coffee diperoleh,” terang Eko.
Tak hanya itu, Hutanta Coffee tercatat sebagai rumah makan dan restoran pertama di Balige yang memperoleh sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) dan sertifikasi halal pada 2018. Saat pandemi COVID-19 melanda, BRI Balige turut melakukan pendampingan dan pemantauan terhadap kondisi usaha. Eko bahkan mendapat kesempatan mengikuti UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2021 yang membuka peluang pasar lebih luas.
Saat ini, produk kopi Hutanta tidak hanya dinikmati di tempat. Kopi Arabika Toba dan Robusta Toba telah dikirim ke berbagai daerah seperti Jakarta dan Batam melalui pemesanan daring. “Tak hanya melayani pelanggan yang datang langsung, produk kopi Hutanta juga telah dikirim ke berbagai daerah,” jelasnya.
Meski demikian, Eko mengakui sektor makanan dan minuman masih bergantung pada pergerakan ekonomi dan kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba. Namun, dengan fondasi yang kuat dan kopi Arabika Toba sebagai identitas, Hutanta Coffee siap menjadi ikon baru wisata kuliner di Balige.