MEDAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tidak hanya memperluas akses layanan kesehatan, tetapi kini mulai fokus meningkatkan kualitasnya. Langkah itu diwujudkan dengan menggandeng RS Mata Cicendo Bandung, pusat rujukan mata nasional yang telah berdiri sejak 1909.
Gubernur Bobby Nasution menyebut kerja sama ini merupakan bagian dari program prioritas bidang kesehatan yang sudah dirancang sejak awal masa jabatannya. "Setelah masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan, hari ini kami coba meningkatkan kualitas layanannya," ujarnya usai penandatanganan nota kesepahaman di Kantor Gubernur Sumut.
Kapasitas Nakes Mata di 49 RS Akan Ditingkatkan
Program jejaring pengampuan mata tidak hanya bersifat seremonial. Direktur Utama RS Mata Cicendo, Antonia Kartika, menjelaskan bahwa tahap awal sudah dimulai secara virtual, berupa peningkatan pengetahuan dasar dan teori tentang mata.
"Besok kita melakukan workshop kepada dokter mata dari 49 rumah sakit di Sumatera Utara, dan juga perawat mata. Sehari setelahnya, kita akan melakukan pendampingan operasi katarak," kata Kartika.
Prevalensi Kebutaan di Indonesia Capai 3 Persen
Angka kebutaan di Indonesia masih tergolong tinggi, yakni sekitar tiga persen. Melalui program pengampuan ini, Pemprov Sumut dan RS Mata Cicendo menargetkan penanganan lebih baik terhadap penyakit penyebab kebutaan seperti katarak, diabetik retinopati, dan glukoma.
Bobby menambahkan, peningkatan kualitas layanan tidak hanya dilakukan melalui kerja sama eksternal, tetapi juga pembenahan fasilitas kesehatan milik daerah. "Kami coba memperbaiki baik fasilitas kesehatan itu sendiri, seperti rumah sakit, puskesmas, RSUD. Hari ini bagian pengoptimalan layanan rumah sakit, khususnya rumah sakit mata milik Provinsi Sumut," katanya.
RS Mata Cicendo: Dari Era Kolonial Jadi Rujukan Nasional
RS Mata Cicendo yang diresmikan pada 3 Januari 1909 dengan nama Koningen Wilhemina Gathuis voor Ooglijders kini berstatus sebagai pusat mata nasional. Kiprahnya selama lebih dari satu abad menjadi modal utama dalam program pengampuan ini.
Dengan adanya jejaring ini, masyarakat Sumatera Utara diharapkan tidak lagi harus merujuk ke luar daerah untuk mendapatkan penanganan penyakit mata yang kompleks. Pemprov Sumut menargetkan program ini mampu menekan angka kebutaan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.