MEDAN — Digitalisasi bansos di Kota Medan tidak hanya soal mengganti buku catatan dengan aplikasi. Pemerintah kota menyiapkan ribuan agen pendamping sosial untuk memastikan data penerima benar-benar akurat, bukan sekadar angka di papan dashboard.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas menyatakan bahwa pihaknya telah ditunjuk sebagai salah satu dari 42 kabupaten/kota lokasi pengimplementasi digitalisasi bansos nasional. "Kota Medan menjadi salah satu lokasi penting dalam peluasan implementasi digitalisasi bansos nasional dan kita dorong itu," ujarnya dalam pembukaan sosialisasi dan bimbingan teknis penggunaan Aplikasi Portal Perlinsos, Senin.
Mengapa Digitalisasi Bansos Gagal di Banyak Daerah Sebelumnya?
Persoalan utama bansos selama ini bukan pada nominalnya, melainkan siapa yang menerima. Data ganda, penerima sudah meninggal, atau warga mampu yang tetap masuk daftar menjadi keluhan tahunan. Kota Medan mencoba memutus rantai itu lewat sistem berbasis biometrik.
Erliani Budi Lestari, Direktur Bina Aparatur Kependudukan dan Pencatatan Sipil Ditjen Dukcapil Kemendagri, menjelaskan bahwa sistem baru ini mengintegrasikan registrasi, verifikasi biometrik, hingga penentuan kelayakan secara transparan dan realtime. "Kota Medan menjadi salah satu lokus penting dalam perluasan implementasi digitalisasi bansos secara nasional, karena dinilai memiliki kesiapan ekosistem pemerintahan yang baik," kata Erliani.
5.080 Agen dengan Beban 5 KK per Hari
Setiap agen pendamping sosial yang ditugaskan tidak akan bekerja asal-asalan. Mereka dibebani target spesifik: mendata lima kepala keluarga per hari. Total ada 792 kepala keluarga yang harus diverifikasi di setiap agen, dengan rincian yang sudah dipetakan berdasarkan wilayah kelurahan.
"Para agen ditugaskan untuk melakukan pendataan dan verifikasi terhadap 792 kepala keluarga. Setiap agen mendata lima kepala keluarga per hari," ujar Rico Waas.
Pendekatan ini berbeda dengan model sebelumnya yang kerap hanya mengandalkan data kependudukan statis tanpa verifikasi lapangan berkala. Dengan agen yang turun langsung, potensi data fiktif atau penerima ganda bisa diminimalkan.
Bagaimana Dampaknya bagi Warga Penerima Bansos?
Bagi warga Medan yang selama ini mengeluhkan bansos tidak tepat sasaran, sistem baru ini diharapkan membawa perubahan. Proses verifikasi berbasis data terpadu membuat nama-nama yang tidak layak otomatis terfilter. Sebaliknya, warga miskin yang sebelumnya tidak terdata punya peluang lebih besar masuk daftar.
"Dengan sistem berbasis data yang terintegrasi, pemerintah dapat menghadirkan informasi yang kredibel, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik," kata Rico Waas.
Namun, tantangan tetap ada. Ribuan agen harus dilatih tidak hanya teknis penggunaan aplikasi, tetapi juga kepekaan sosial di lapangan. Verifikasi berbasis biometrik juga membutuhkan perangkat yang merata di setiap kelurahan, termasuk di wilayah pinggiran Medan yang infrastruktur internetnya belum optimal.
FAQ: Apa Itu Aplikasi Portal Perlinsos?
Apa perbedaan Portal Perlinsos dengan data bansos sebelumnya?
Portal Perlinsos mengintegrasikan data kependudukan dari Dukcapil dengan verifikasi biometrik langsung di lapangan. Data penerima diperbarui secara realtime, bukan setahun sekali seperti model konvensional.
Apakah semua penerima bansos di Medan harus diverifikasi ulang?
Ya. Setiap kepala keluarga penerima manfaat akan didata ulang oleh agen pendamping sosial. Proses ini bertujuan menyaring data ganda dan memastikan hanya warga yang benar-benar memenuhi kriteria yang tetap menerima bansos.