MEDAN — Jemari Rika (31) bergerak lincah di balik meja konter kecil tokonya, Smart Ponsel 2, yang terletak di Jalan Jamin Ginting, Kota Medan. Satu tangan menggenggam ponsel, tangan lainnya sesekali menekan mesin EDC BRI. Pelanggan datang silih berganti, dan ia melayani dengan ramah.
"Transfer ya bang? Sebentar," ujarnya kepada seorang pelanggan.
Tak sampai beberapa menit, transaksi pun selesai. Bagi Rika, meja konter itu bukan sekadar tempat berjualan ponsel. Di sanalah ia menjaga mimpi kecilnya untuk tetap menjadi perempuan berdaya sekaligus membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dari Iseng Menjadi Sumber Penghasilan Tambahan
Sudah tiga tahun Rika menjalani peran ganda sebagai pemilik toko ponsel dan agen BRILink. Keputusan itu lahir dari kebutuhan yang sederhana: ingin punya penghasilan sendiri untuk biaya sehari-hari, tidak hanya mengandalkan gaji suami yang bekerja sebagai staf di pusat perbelanjaan Medan.
"Kalau cuma duduk di rumah saja, rasanya sayang. Makanya toko ponsel ini sekalian saya jadikan Agen BRILink. Jadi ada tambahan penghasilan juga," kata Rika saat ditemui di tokonya, Senin (11/5/2026).
Ide itu datang dari sang kakak yang lebih dulu menjadi agen BRILink di Jalan Sisingamangaraja, Medan. Rika melihat peluang: tokonya bisa lebih dari sekadar tempat jual pulsa. Kini, hampir setiap hari warga datang untuk tarik tunai, transfer antarbank, setor uang, hingga membeli token listrik.
Waktu Tersibuk Justru Malam Hari
Menurut Rika, jam sibuk justru terjadi saat malam hari. Banyak orang yang melintas dan mampir untuk bertransaksi sambil membeli pulsa. Dari setiap transaksi, ia mendapat komisi yang meski kecil, jika dikumpulkan dalam sebulan bisa mencapai sekitar Rp2 juta.
"Lumayan sekali. Bisa bantu kebutuhan rumah. Sekarang harga bahan pokok juga naik, jadi tambahan seperti ini sangat terasa manfaatnya," ujarnya.
Suami Rika bergantian menjaga toko dari pagi hingga pukul 24.00 WIB. Rutinitas itu mereka jalani tanpa banyak keluhan. Rika mengaku lebih senang bekerja di toko daripada hanya diam di rumah.
Pengalaman Pahit: Tertipu Hingga Uang Palsu
Perjalanan tiga tahun itu tidak selalu mulus. Di masa awal, Rika pernah tertipu. Seorang pelanggan meminta bantuan transfer dompet digital senilai Rp250 ribu dengan meninggalkan kartu ATM sebagai jaminan. Karena masih terlalu percaya, Rika mentransfer uang tersebut. Pelanggan itu tak pernah kembali.
"Waktu itu saya masih modal percaya. Rupanya dia lari," kenangnya.
Pengalaman pahit lain datang saat seseorang mencoba menyetor uang palsu. Pelanggan itu sengaja mengajaknya berbincang panjang agar fokusnya terpecah. Kini, Rika jauh lebih hati-hati dan selalu menjalankan prosedur operasional standar dalam setiap layanan.
Bukan Sekadar Untung-Rugi
Meski persaingan antarsesama agen BRILink di Medan kian ketat, semangat Rika tak surut. Baginya, pekerjaan ini bukan hanya soal untung-rugi. Ada kepuasan tersendiri saat melihat pelanggan pulang dengan urusan keuangan yang selesai tanpa harus jauh-jauh ke bank.
"Kadang mereka datang buru-buru, butuh transfer atau tarik tunai. Setelah selesai, mereka bilang terima kasih. Jadi akses keuangan jadi lebih mudah," katanya.
Salah seorang pelanggan, Ikbal, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan agen BRILink di tokonya Rika. Ia tak perlu lagi meluangkan waktu khusus untuk pergi ke kantor bank yang jaraknya cukup jauh dari rumah.