Bupati Padang Lawas Tekankan Santri Ponpes Al-Mukhlishin sebagai Agen Perubahan Zaman di Era Digital

Penulis: Ramli Ahmad  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 15:41:31 WIB
Bupati Padang Lawas menegaskan peran santri Ponpes Al-Mukhlishin sebagai agen perubahan di era digital.

PADANG LAWAS — Bupati Padang Lawas menyebut bahwa santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu membaca dan merespons perubahan zaman. Momentum penamatan santri Ponpes Al-Mukhlishin dijadikan panggung untuk menegaskan kembali posisi pesantren dalam mencetak generasi yang adaptif.

Mengapa Santri Disebut Agen Perubahan?

Di tengah gempuran informasi yang kerap tanpa filter, Bupati menilai santri memiliki bekal moral dan intelektual yang kuat untuk menjadi filter sosial. "Santri harus menjadi pelopor dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan, bukan sekadar konsumen informasi," ujarnya dalam sambutan di hadapan para santri dan wali santri.

Pernyataan itu relevan dengan kondisi Sumatera Utara yang belakangan menghadapi tantangan radikalisme dan hoaks di media sosial. Bupati menekankan bahwa pesantren, dengan sistem pendidikan asrama dan pengawasan ketat, justru menjadi benteng paling efektif untuk membendung pengaruh negatif tersebut.

Peran Pesantren di Era Digital

Bupati Palas secara spesifik menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan santri. Ia mendorong Ponpes Al-Mukhlishin untuk mengintegrasikan keterampilan digital ke dalam kurikulum tanpa meninggalkan tradisi keilmuan klasik seperti kitab kuning.

"Kita ingin santri tidak gagap teknologi. Tapi juga tidak larut dalam arus informasi yang menyesatkan. Mereka harus jadi contoh bagaimana menggunakan media sosial untuk dakwah dan edukasi," lanjut Bupati.

Pesantren di Padang Lawas sendiri terus bertumbuh. Data Kementerian Agama mencatat ada puluhan ponpes aktif di kabupaten ini, dengan Al-Mukhlishin menjadi salah satu yang rutin meluluskan santri setiap tahun.

Apa Implikasi bagi Pendidikan di Palas?

Pernyataan Bupati ini menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah mulai serius memposisikan pesantren sebagai mitra strategis pembangunan sumber daya manusia. Selama ini, pesantren kerap dipandang sebelah mata dalam konteks pendidikan formal. Namun, dengan penekanan pada peran santri sebagai agen perubahan, ada harapan baru bagi integrasi kurikulum nasional dan pesantren.

Beberapa pesantren di Sumatera Utara bahkan sudah mulai mengadopsi program kewirausahaan dan teknologi informasi. Langkah ini dinilai penting agar lulusan pesantren tidak hanya siap menjadi imam atau guru ngaji, tetapi juga mampu bersaing di pasar kerja modern.

FAQ: Apa yang Dimaksud Santri sebagai Agen Perubahan?

Apa yang dimaksud dengan santri sebagai agen perubahan?
Santri sebagai agen perubahan berarti mereka diharapkan menjadi motor penggerak transformasi sosial, ekonomi, dan budaya di masyarakat, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman yang moderat.

Mengapa peran santri penting di era digital?
Karena santri memiliki basis moral yang kuat, mereka dapat menjadi penangkal hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme yang marak di platform digital, sekaligus menjadi teladan dalam berinternet secara sehat dan produktif.

Reporter: Ramli Ahmad
Sumber: sumutpos.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top