KARO — Direktur Keuangan PT PNM, Sahat Pangabahan Pangaribuan, yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menekankan pentingnya refleksi kolektif untuk memastikan Pancasila tetap menjadi “bintang penuntun” di tengah ketidakpastian global.
Dalam arahannya, Sahat mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral yang jelas hanya akan menghasilkan kesia-siaan. “Pancasila adalah ‘jangkar moral’ kita saat menghadapi gejolak global, mulai dari gangguan teknologi hingga perubahan dinamika politik dunia,” ujarnya di hadapan jajaran pimpinan dan karyawan PT PNM Kabanjahe.
Acara yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” ini dihadiri oleh Pemcab PNM Kabanjahe Daniel Silitonga, Manager ULAM Rahmat Simanjormang, serta Manager Supporting Gunung Simarmata. Suasana khidmat terasa sejak awal hingga akhir upacara.
Bagi Kabupaten Karo, kawasan yang dikenal dengan keragaman etnis dan agamanya, pesan persatuan yang disampaikan Sahat memiliki resonansi kuat. Ia secara spesifik mengajak seluruh insan PNM untuk menjadikan keadilan sosial sebagai landasan setiap kebijakan dan pelayanan. “Pastikan setiap kebijakan dan pelayanan yang kita berikan berlandaskan keadilan sosial, menjamin hak masyarakat kecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang tertinggal,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi relevan mengingat PNM selama ini dikenal sebagai lembaga pembiayaan yang fokus pada pemberdayaan perempuan prasejahtera melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dan Unit Layanan Modal Mikro (ULAM). Di usia ke-27, perusahaan dituntut untuk tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial.
Sahat juga menyoroti posisi Indonesia dalam percaturan global. Menurutnya, nilai musyawarah dan mufakat yang menjadi ciri khas bangsa adalah instrumen diplomasi paling efektif untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik antarnegara. “Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan nyata lewat kontribusi pasukan perdamaian di bawah bendera PBB. Ini adalah wujud nyata penerapan sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” tambahnya.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Pancasila bukan hanya relevan untuk urusan dalam negeri, tetapi juga menjadi fondasi bagi peran Indonesia sebagai kekuatan moral dunia. “Kami ingin dunia memahami, perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” pungkas Sahat.
Perpaduan antara peringatan Hari Lahir Pancasila dan HUT ke-27 PT PNM menjadi simbol bahwa institusi keuangan pun memiliki tanggung jawab ideologis. Kegiatan yang ditutup dengan doa restu untuk kemajuan PNM ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara nilai-nilai kebangsaan dengan praktik bisnis yang berpihak pada rakyat kecil.
“Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi religiusitas, persatuan, dan kemanusiaan. Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan senantiasa berdenyut menjadi nadi seluruh anak bangsa,” ajak Sahat di akhir sambutannya.