Harga TBS Sawit Anjlok di Bawah HPP, Petani Swadaya Mengeluh Nombok Hingga Rp1.800 per Kg

Penulis: Mukhtar Latif  •  Kamis, 28 Mei 2026 | 14:21:01 WIB
Harga TBS sawit petani swadaya turun di bawah HPP, menyebabkan kerugian per kilogram.

SUMATERA UTARA — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) melaporkan penurunan tajam harga TBS dalam beberapa hari terakhir. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung, mengatakan harga TBS petani swadaya saat ini berada di kisaran Rp1.800 hingga Rp2.200 per kilogram.

“Petani swadaya sekarang itu ada yang tinggal Rp1.800-Rp2.200 per kg. Padahal HPP kita Rp2.000. Artinya, petani sudah nombok,” kata Gulat dalam keterangan tertulis, Kamis (28/5/2026).

Penurunan Harga Capai Rp1.500 Per Kg

Menurut Apkasindo, penurunan harga rata-rata mencapai Rp600 hingga Rp1.500 per kilogram. Kondisi ini terjadi di tengah masih tingginya harga minyak sawit di pasar internasional. Artinya, ada ketimpangan antara harga di tingkat petani dan harga jual produk olahan.

Gulat menjelaskan, kelompok petani swadaya menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka tidak memiliki kepastian kontrak pembelian seperti petani plasma atau petani yang bermitra dengan perusahaan. Saat ini, harga TBS petani plasma masih stabil di kisaran Rp3.600 per kg.

93 Persen Kebun Sawit Rakyat Dikuasai Petani Swadaya

Data Apkasindo menunjukkan, luas kebun petani swadaya mencapai 93 persen dari total kebun sawit rakyat. Artinya, mayoritas petani kelapa sawit di Indonesia tidak memiliki perlindungan kontrak jual beli. “Kalau petani bermitra masih ada perlindungan karena diatur Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Yang paling terpuruk itu petani swadaya,” ujar Gulat.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan menurunnya kesejahteraan petani di tengah melonjaknya biaya produksi. Apkasindo pun mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan tata niaga sawit, terutama yang menyangkut perlindungan harga bagi petani swadaya.

Reporter: Mukhtar Latif
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top