SUMATERA UTARA — Platform tersebut dirancang untuk memberi ruang bagi penggemar agar bisa meremix dan menggabungkan trek artis, menciptakan interpretasi lagu baru, hingga pengalaman vokal yang dipersonalisasi. Langkah ini menandai pergeseran cara label besar merespons teknologi AI, dari yang semula berhati-hati menjadi aktif membangun ekosistem bersama.
Kolaborasi yang Berbeda dari Kemitraan Sebelumnya
Kesepakatan UMG dan ElevenLabs berbeda dari kerja sama label dengan startup AI lain seperti Hook dan Udio. Kali ini, keduanya membangun platform baru dari nol, bukan sekadar mengintegrasikan teknologi ke layanan yang sudah ada.
ElevenLabs sendiri bukan pemain kecil. Perusahaan yang berdiri pada 2022 ini mengumpulkan dana US$500 juta dalam putaran pendanaan Series D pada awal tahun ini, dengan valuasi menembus US$11 miliar. Sebelumnya, mereka menawarkan tender offer senilai US$100 juta kepada karyawan pada valuasi US$6,6 miliar.
Perusahaan ini dikenal lewat lisensi suara dan kekayaan intelektual, termasuk karakter milik Hasbro. ElevenLabs juga sudah masuk ke ranah musik melalui "The Eleven Album," kumpulan lagu orisinal yang digarap bersama penyanyi seperti Liza Minnelli dan Art Garfunkel, plus sejumlah artis musik hasil AI.
Pernyataan Bos UMG dan ElevenLabs
Chairman sekaligus CEO UMG, Sir Lucian Grainge, menyebut kemitraan ini sebagai langkah yang menempatkan artis, pencipta lagu, dan penggemar di pusat pengembangan teknologi.
"The most exciting possibilities for AI and music are those that put artists, songwriters, and fans at the center," kata Grainge dalam pernyataannya. "UMG and ElevenLabs are aligned that responsible AI can inspire discovery, deepen engagement between artists and fans, and unlock new revenue opportunities for the creative community."
Co-founder dan CEO ElevenLabs, Mati Staniszewski, menambahkan bahwa kombinasi komunitas global UMG dan keahlian manajemen hak dengan model AI mereka akan membuka pengalaman baru bagi penggemar.
"AI opens up incredible possibilities for interacting with our favorite music and artists," ujar Staniszewski. "By combining UMG's global community and rights management expertise, with our AI models and products, we'll enable artists and songwriters to create powerful new experiences for their fans, and ensure they are fairly compensated."
Peta Persaingan AI di Industri Musik
Langkah UMG ini menyusul aksi Suno yang sehari sebelumnya meluncurkan model pertamanya bersama Warner Music Group, Believe, dan BMG. UMG dan Sony Music Entertainment sendiri masih berhadapan dengan Suno di jalur hukum terkait tuduhan pelanggaran hak cipta.
Dengan kesepakatan ini, UMG mempertegas posisinya bahwa AI bukan ancaman yang harus ditolak mentah-mentah, melainkan peluang komersial yang perlu diatur dengan lisensi dan kompensasi yang jelas. Bagi industri musik global, termasuk pasar Indonesia yang makin akrab dengan alat produksi berbasis AI, model kemitraan semacam ini bisa jadi acuan soal bagaimana hak cipta dan kreativitas bisa berjalan seiring.