DELISERDANG — Peserta Jambore Daerah (Jamda) Sumatera Utara XI dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Asahan tidak sekadar berkemah. Mereka dibekali keterampilan teknis penanggulangan bencana yang langsung dipraktikkan di lapangan.
Kegiatan ini berlangsung di area perkemahan zona khusus yang sengaja disiapkan untuk melatih kedisiplinan dan solidaritas. Sabtu (11/7/2026) menjadi puncak dari rangkaian pelatihan tanggap darurat yang diikuti oleh para peserta.
Materi Pelatihan: Dari PPGD hingga Manajemen Dapur Umum
Para peserta mendapatkan pelatihan pertolongan pertama gawat darurat (PPGD) dan water rescue sebagai bekal dasar penyelamatan medis dan di air. Materi ini menjadi krusial mengingat Sumatera Utara memiliki sejumlah daerah rawan banjir dan longsor.
Praktik simulasi evakuasi bencana juga menjadi agenda utama. Peserta diajak langsung mempraktikkan bongkar pasang tenda darurat serta mengelola dapur umum—keterampilan yang dibutuhkan saat bencana benar-benar terjadi.
Selain itu, edukasi mitigasi diberikan melalui pengenalan potensi ancaman bencana di daerah asal masing-masing. Pembekalan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) turut disertakan untuk membekali relawan muda dalam menghadapi korban yang mengalami trauma.
Mengapa Pelatihan Ini Penting bagi Relawan Muda?
Jamda Sumut XI tidak hanya menjadi ajang perkemahan biasa. Kegiatan ini merupakan wadah untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang kebencanaan sejak usia dini.
Dengan keterampilan yang diperoleh, peserta diharapkan mampu menjadi garda terdepan saat bencana melanda komunitas mereka. Pelatihan water rescue, misalnya, menjadi bekal vital bagi daerah yang memiliki aliran sungai besar atau rawan banjir bandang.
Manajemen dapur umum dan simulasi evakuasi juga mengajarkan koordinasi tim yang solid. Hal ini penting karena respons bencana tidak bisa dilakukan secara individu—perlu sinergi dan pembagian peran yang jelas.
Target Jangka Panjang Jambore Daerah
Jambore Daerah zona khusus ini dirancang untuk melampaui sekadar kegiatan kepramukaan rutin. Targetnya adalah menciptakan kader relawan yang siap siaga dan terlatih secara teknis.
Peserta tidak hanya diajari teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan. Dari simulasi evakuasi hingga pendirian tenda darurat, semua dilakukan dalam tekanan waktu yang menyerupai situasi bencana nyata.
Dengan bekal ini, Kwarcab Asahan berharap para peserta bisa menjadi agen mitigasi di kampung halaman masing-masing. Mereka diharapkan mampu mengedukasi warga sekitar tentang langkah-langkah penyelamatan dasar saat bencana terjadi.