Pencarian

Sampah di Medan Melonjak 6.500 Ton per Hari Usai Banjir, Rico Waas Sebut Ancaman Penyakit Mengintai

Senin, 29 Juni 2026 • 22:28:01 WIB
Sampah di Medan Melonjak 6.500 Ton per Hari Usai Banjir, Rico Waas Sebut Ancaman Penyakit Mengintai
Wali Kota Medan Rico Waas memaparkan lonjakan sampah pascabanjir yang mencapai 6.500 ton per hari.

MEDAN — Produksi sampah Kota Medan yang biasanya berkisar 1.500 hingga 1.700 ton per hari kini meroket menjadi 6.000 hingga 6.500 ton per hari pascabanjir. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menyebut lonjakan ini sebagai persoalan baru yang tidak kalah serius dari banjir itu sendiri.

“Banjir tidak berhenti ketika air surut. Persoalan baru muncul berupa ledakan volume sampah,” kata Rico saat menjadi pembicara dalam Sharing Session Youth City Changers (YCC) APEKSI 2026 di Medan, Minggu (28/6/2026).

Menurut Rico, tumpukan sampah yang membengkak menjadi ancaman langsung bagi warga yang baru saja selamat dari banjir. Risiko penyakit seperti diare, demam berdarah, dan infeksi kulit meningkat drastis di lingkungan yang kotor dan lembap. “Itu memicu ancaman penyakit dan memperberat proses pemulihan,” ujarnya.

Pemulihan Terhambat, SOP Kebencanaan Dievaluasi

Pemerintah Kota Medan tidak hanya fokus pada evakuasi dan penanganan darurat, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan. Rico mengakui bahwa pengalaman banjir yang merendam hampir seluruh wilayah kota menjadi pelajaran berharga.

“Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat SOP kebencanaan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” ungkapnya.

Pemko Medan menilai respons terhadap bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat, relawan, dan komunitas menjadi kunci agar penanganan darurat berjalan lebih cepat dan efektif di masa mendatang.

Warga Sempat Menolak Dievakuasi, Air Naik Drastis

Salah satu kendala besar dalam proses evakuasi saat banjir adalah sikap sebagian warga yang memilih bertahan di rumah. Rico menceritakan bahwa banyak warga awalnya menolak dievakuasi karena mengira air akan segera surut.

“Ketika air naik drastis, barulah mereka meminta bantuan dalam kondisi yang sudah sangat berbahaya,” ungkap Rico.

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pemerintah, tetapi juga oleh kesadaran masyarakat untuk mengikuti prosedur keselamatan. Pemko Medan kini mendorong edukasi kebencanaan yang lebih masif agar warga tidak ragu saat diperintahkan mengungsi.

Lonjakan Sampah Jadi Prioritas Penanganan

Dengan volume sampah yang mencapai 6.500 ton per hari, Pemko Medan harus bekerja ekstra dalam membersihkan puing-puing dan lumpur sisa banjir. Rico menegaskan bahwa penanganan sampah menjadi prioritas utama agar proses pemulihan tidak berlarut-larut dan warga bisa segera kembali beraktivitas normal.

Pemerintah kota terus berkoordinasi dengan dinas terkait dan melibatkan komunitas kebersihan untuk mempercepat pengangkutan sampah dari titik-titik terdampak. Upaya ini diharapkan mampu menekan risiko penyebaran penyakit dan mempercepat pemulihan Kota Medan pascabanjir besar. (dfn)

Follow monitorsumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: disrupsi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks