MEDAN — Suardi Raden memulai semuanya dari nol. Pada 2015, pria ini belajar bercocok tanam hidroponik secara otodidak, bermodal video-video dari YouTube. Tanaman pertamanya adalah kangkung, yang dinilai paling mudah. Perlahan, ia merambah ke bayam, kale, selada, hingga pakcoy. Awalnya hanya untuk kebutuhan sendiri, respons positif dari tetangga membuatnya dikenal dari mulut ke mulut.
Dari Pameran MTQ hingga Pinjaman KUR BRI
Momentum besar datang saat Suardi mengikuti pameran pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kota Medan di tahun yang sama. Dari sanalah Syifa Hidroponik mulai dilirik masyarakat. Melihat peluang, ia tak ragu mengajukan KUR ke Bank Rakyat Indonesia (BRI).
“Prosesnya mudah dan sangat membantu. Dari situ usaha kami berkembang lebih cepat,” kata Suardi saat ditemui di kediamannya.
Pinjaman pertama sebesar Rp25 juta ia terima pada 2015, disusul tambahan modal Rp50 juta pada 2021. Dana itu digunakan untuk memperluas area tanam di rooftop rumah, yang kini memiliki sekitar 1.500 lubang tanam.
Fokus pada Basil: Pasokan 20 Kg per Bulan ke Hotel dan Restoran
Setelah bereksperimen dengan berbagai sayuran, Suardi memutuskan fokus pada satu komoditas utama: basil. Keputusan itu diambil sejak 2017 karena permintaan terus meningkat. “Permintaan basil paling sedikit 20 kilogram per bulan. Mayoritas untuk hotel dan restoran,” ujarnya.
Namun, perjalanan bisnis tak selalu mulus. Banjir besar dan musim hujan di akhir tahun lalu sempat membuat tanaman basilnya rusak akibat serangan jamur, sehingga produksi terhenti sementara. “Tapi sekarang kami mulai lagi, dan pelanggan baru juga mulai berdatangan,” katanya optimistis.
Produk Turunan dan Kafe Bunga Telang
Tak hanya menjual sayuran segar, Suardi dan Rahmayetty mengembangkan lima produk olahan tanpa pengawet. Mulai dari kangkung arsik, kangkung rendang, keripik sawi, gabus kale, hingga sirup bunga telang yang diberi nama Syifa Sirup. “Semua produk kami tanpa pengawet, jadi maksimal tahan tiga bulan di suhu ruang,” kata Rahmayetty.
Sirup telang tersebut bahkan telah digunakan oleh dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan harga Rp35 ribu per botol, produk ini mendapat respons positif. Rahmayetty menjelaskan, keunggulan hidroponik adalah hasil panen yang lebih terkontrol karena nutrisi dijaga secara konsisten dan bebas pestisida kimia. “Kami hanya memakai pestisida nabati buatan sendiri,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Suardi juga menyulap teras rumahnya menjadi kafe kecil dengan menu berbahan dasar bunga telang sebagai daya tarik utama.
Local Hero BRI yang Aktif Berbagi Ilmu
Dedikasi Suardi mendapat pengakuan. Pada 2021, ia terpilih sebagai Local Hero Sumatra Utara dalam program BRI Local Hero dan dinobatkan sebagai Figur Inspiratif Lokal BRI Batch 2. “Setelah itu kami mendapat dukungan untuk membangun greenhouse melalui program BRI,” kata Rahmayetty.
Kini, pasangan ini tak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga aktif berbagi ilmu kepada pemula. Mereka menyediakan perlengkapan hidroponik bagi warga yang ingin mencoba. “Modal untuk hidroponik rumahan sebenarnya kecil, sekitar Rp100 ribu sudah bisa mulai. Bahkan bisa memanfaatkan barang-barang bekas,” ujar Rahmayetty.
“Kami belajar bahwa dalam hidup ini harus kerja keras. Jangan menggantungkan diri kepada siapapun,” papar Suardi.