SpaceX resmi mencatatkan sahamnya di bursa NASDAQ pada hari ini, mengakhiri penantian panjang selama 24 tahun sejak perusahaan dirintis. Dengan kapitalisasi yang langsung melambung, IPO ini bukan sekadar momen finansial — ia menjadi barometer ambisi manusia di luar angkasa. Dari peluncuran roket yang bisa mendarat sendiri hingga jaringan Starlink yang menjangkau pelosok Bumi, semua kini punya harga pasar.
Dokumen registrasi S-1 yang diajukan ke regulator mengungkap fakta mengejutkan: SpaceX membukukan kerugian 4,9 miliar dolar AS pada 2025, meski pendapatannya mencapai 18 miliar dolar AS. Lebih dari itu, total kerugian akumulasi perusahaan sejak berdiri telah menembus 37 miliar dolar AS. Namun, angka merah itu tak menyurutkan antusiasme investor.
Yang lebih menarik: sekitar 4.400 karyawan SpaceX berpotensi menjadi jutawan dari IPO ini, menurut laporan New York Times. Sebuah angka yang mencerminkan betapa besarnya distribusi kekayaan — setidaknya di atas kertas — dari perusahaan yang selama ini dikenal sebagai properti pribadi Musk.
Struktur kepemilikan saham SpaceX menjadi sorotan utama. Elon Musk memegang kendali 85,1 persen hak suara perusahaan, jauh melampaui standar founder control yang biasa ditemui di Silicon Valley. Dengan kata lain, meski sudah go public, Musk tetap akan memiliki cengkeraman monarki atas SpaceX — kekuatan yang bahkan tidak dimiliki Mark Zuckerberg di Meta atau Jeff Bezos di Amazon.
Investor SPV (special purpose vehicle) yang masuk sebelum IPO justru menghadapi ketidakpastian. Mereka baru akan mengetahui jumlah kepemilikan sesungguhnya setelah periode lock-up berakhir, dengan potensi biaya tersembunyi dan penundaan pembayaran yang panjang. Ini menjadi peringatan bagi investor ritel yang tergiur euforia.
Di balik hiruk-pikuk roket Starship, SpaceX ternyata telah mengamankan pendapatan besar dari bisnis komputasi awan. Dua kontrak menonjol terungkap dalam dokumen pra-IPO: Anthropic setuju membayar 1,25 miliar dolar AS per bulan ke divisi xAI milik SpaceX, sementara Google akan merogoh kocek 920 juta dolar AS per bulan untuk kapasitas komputasi yang sama.
Kesepakatan ini menunjukkan pergeseran strategi SpaceX: dari sekadar perusahaan peluncuran roket menjadi penyedia infrastruktur komputasi untuk era kecerdasan buatan. Bagi pengamat industri, ini langkah cerdas untuk memperbaiki neraca keuangan sebelum melantai di bursa.
Dokumen S-1 juga memuat proyeksi bisnis yang ambisius melalui divisi xAI, namun di sisi lain menyisakan tanda tanya besar soal masa depan roket Starship. Analis menilai jalur menuju reusability penuh masih terjal — data dari uji terbang terbaru dan angka dalam IPO memberikan gambaran realistis yang mungkin mengecewakan baik pendukung maupun kritikus.
Lebih penting lagi, SpaceX secara eksplisit memperingatkan investor tentang potensi dilusi saham di masa depan. Bahasa baru dalam S-1 ini memicu spekulasi bahwa merger dengan Tesla atau akuisisi besar lain bisa terjadi setelah perusahaan resmi menjadi entitas publik. Bagi pemegang saham ritel, ini sinyal bahwa perjalanan setelah IPO belum tentu mulus.