SUMATERA UTARA — Sepanjang empat bulan pertama tahun ini, total produksi listrik nasional mencapai 165,51 TWh. Dari jumlah tersebut, pembangkit berbasis batu bara menyumbang 107,36 TWh. "Batu bara sekitar 64,87%, lebih besar dari target 62%," kata Tri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR, Kamis (4/6).
Sementara itu, produksi listrik dari energi baru dan terbarukan (EBT) justru mencatatkan capaian positif. Realisasi EBT sebesar 29,62 TWh atau 17,89% dari total produksi, melampaui target 16,46%. Pada 2025 lalu, porsi EBT juga berhasil melampaui target, yakni 16,31% dari target 15,9%. "Ini mencerminkan upaya transisi energi yang terus berjalan, namun masih membutuhkan akselerasi untuk mengurangi dominasi fosil," ujar Tri.
Berdasarkan wilayah, Jawa-Bali menjadi pusat produksi listrik tertinggi dengan 87,43 TWh. Di sana, batu bara mendominasi dengan porsi 70,99%, disusul gas 16,66%, EBT 10,01%, dan BBM 2,34%. Sumatra mencatat produksi 32,42 TWh dengan komposisi EBT yang cukup signifikan, mencapai 41,76%, sementara batu bara hanya 38,40%.
Kondisi berbeda terjadi di Indonesia timur. Di Maluku-Papua, produksi listrik mencapai 14,96 TWh, namun ketergantungan pada batu bara sangat tinggi, mencapai 87,99%. Porsi EBT di wilayah itu hanya 3,67%. "Ini dipengaruhi oleh industri smelter, dan capaian EBT sebesar 3,67%. Ini mencerminkan bahwa pada wilayah timur Indonesia, ketergantungan pembangkit berbasis batu bara dan BBM masih relatif tinggi," beber Tri.
Sementara di Nusa Tenggara, ketergantungan justru beralih ke BBM dengan porsi 33,71%, melampaui batu bara yang hanya 29,30%. EBT di sana menyumbang 20,35%, dan gas 16,64%.
Dari total produksi 116,82 TWh yang tercatat hingga April 2026, PLN menyumbang 61,79 TWh, sementara Independent Power Producer (IPP) sebesar 55,03 TWh. Produksi dari Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Sendiri (IUPTLS) mencapai 40,29 TWh, dan wilayah usaha lain termasuk PLN Batam sebesar 8,40 TWh.
Secara keseluruhan, data ini mempertegas bahwa meskipun transisi energi mulai menunjukkan hasil, dominasi batu bara di sistem kelistrikan nasional masih menjadi tantangan utama. Wilayah industri seperti Jawa-Bali dan Maluku-Papua menjadi titik paling kritis untuk didorong beralih ke sumber energi yang lebih bersih.