Kapolres Pematangsiantar dan Wali Kota Hadiri Festival Waisak 2570 BE, Simbol Toleransi di Tengah Masyarakat Majemuk

Penulis: Hamzah Effendi  •  Minggu, 31 Mei 2026 | 00:12:01 WIB
Kapolres Pematangsiantar dan Wali Kota hadir dalam puncak perayaan Festival Waisak 2570 BE di Vihara Samiddha Bhagya.

PEMATANGSIANTAR — Ratusan umat Buddha memadati Vihara Samiddha Bhagya di Jalan Thamrin untuk mengikuti rangkaian puncak perayaan Waisak. Tidak seperti perayaan rutin tahunan, momen ini menjadi panggung bagi sinergi antara pemuka agama, Polri, dan eksekutif daerah dalam menjaga iklim kondusif di kota yang dikenal heterogen ini.

Keamanan Ibadah Jadi Prioritas Polri di Tengah Keragaman

Kapolres Pematangsiantar AKBP Sah Udur T.M. Sitinjak menegaskan bahwa pengamanan kegiatan keagamaan adalah bentuk kehadiran negara yang setara bagi seluruh warga. Ia menyebutkan bahwa Polri tidak membeda-bedakan golongan dalam memberikan rasa aman.

“Polri akan terus hadir memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan agama, suku, maupun golongan. Kami berharap semangat toleransi yang tercermin dalam perayaan Waisak ini semakin memperkuat persaudaraan dan menjaga situasi kondusif di Kota Pematangsiantar,” ujar Kapolres dalam sambutannya.

Pernyataan ini menjadi penting mengingat Sumatera Utara kerap menjadi sorotan terkait potensi gesekan horizontal. Langkah Kapolres yang turun langsung ke vihara menjadi sinyal bahwa aparat tidak hanya reaktif, tetapi proaktif membangun kepercayaan publik.

Apresiasi Vihara: Bukti Kolaborasi yang Berjalan

Rangkaian acara diawali dengan doa bersama dan pembacaan paritta suci, dilanjutkan dengan penampilan seni budaya yang menambah semarak malam puncak Waisak. Kepala Vihara Samiddha Bhagya, Biksu Pranidhana Mahasthavira, secara khusus menyampaikan apresiasi kepada pemerintah kota dan aparat keamanan.

“Kami bersyukur rangkaian perayaan Waisak dapat berlangsung lancar, aman, dan penuh kebersamaan. Kehadiran pemerintah daerah serta aparat keamanan menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Pematangsiantar,” katanya.

Sebagai bentuk penghargaan, pihak vihara menyerahkan cenderamata kepada Wali Kota, Ketua TP PKK Liswati Wesly Silalahi, dan Kapolres Pematangsiantar. Simbolis ini menguatkan bahwa hubungan antara umat Buddha dan pemerintah berjalan dua arah.

Mengapa Momen Ini Lebih dari Sekadar Ritual?

Festival Waisak 2570 BE di Pematangsiantar terjadi di tengah dinamika politik dan sosial pasca-Pilkada. Kehadiran pejabat publik di tempat ibadah menjadi indikator bahwa toleransi bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan praktik harian yang dirawat oleh semua elemen.

Acara ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga di luar sekat keyakinan. Dengan melibatkan pejabat daerah, perayaan ini sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kedamaian dan persatuan di Kota Pematangsiantar.

FAQ: Apa yang Perlu Diketahui tentang Waisak dan Toleransi di Sumut?

Apa makna perayaan Waisak bagi umat Buddha di Indonesia?
Waisak memperingati tiga peristiwa suci: kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddharta Gautama. Di Indonesia, perayaan ini juga menjadi simbol kebebasan beragama yang dijamin konstitusi.

Bagaimana peran Polri dalam menjaga toleransi di daerah multietnis?
Polri melalui program “Cooling System” dan patroli dialogis rutin melakukan pendekatan ke tokoh agama dan komunitas untuk mencegah konflik, seperti yang dilakukan Kapolres Pematangsiantar di Vihara Samiddha Bhagya.

Reporter: Hamzah Effendi
Sumber: sinata.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top