PEMATANGSIANTAR — Penghargaan Anumodana menjadi puncak dari rangkaian Malam Doa dan Festival Malam Waisak 2570 BE yang digelar di Kota Pematangsiantar. Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Wali Kota Wesly Silalahi dan Ketua TP PKK kota setempat di hadapan ribuan umat Buddha yang hadir dalam acara tersebut.
Dalam ajaran Buddha, Anumodana berarti turut berbahagia atau ikut bersuka cita atas jasa kebajikan yang dilakukan seseorang. Pemberian penghargaan ini menandai pengakuan dari komunitas Buddha terhadap peran aktif Pemkot Pematangsiantar dalam memfasilitasi dan mendukung kegiatan keagamaan, termasuk perayaan hari besar keagamaan.
Wali Kota Wesly Silalahi menyampaikan apresiasi atas penghargaan tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota berkomitmen menjaga kerukunan antarumat beragama di Pematangsiantar.
Perayaan Malam Waisak tahun ini tidak hanya diisi dengan doa bersama, tetapi juga festival yang melibatkan partisipasi masyarakat. Ratusan umat Buddha dari berbagai vihara di Kota Pematangsiantar dan sekitarnya hadir dalam prosesi yang berlangsung khidmat.
Pantia pelaksana menyebut bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebajikan dan perdamaian di tengah masyarakat. Selain doa bersama, festival juga menampilkan pertunjukan seni dan budaya khas Buddha yang mendapat sambutan antusias dari pengunjung.
Pemerintah Kota Pematangsiantar selama ini dikenal aktif memberikan dukungan terhadap kegiatan keagamaan semua agama. Mulai dari penyediaan lokasi acara, pengamanan, hingga bantuan logistik, Pemkot berupaya agar setiap perayaan keagamaan berjalan lancar.
Penghargaan Anumodana yang diterima Wali Kota dan Ketua TP PKK menjadi bukti nyata bahwa hubungan harmonis antara pemerintah dan komunitas agama terus terjaga. Hal ini sejalan dengan visi Pematangsiantar sebagai kota yang toleran dan inklusif bagi seluruh warganya.
Anumodana diberikan kepada individu atau lembaga yang dinilai telah berjasa dalam mendukung perkembangan agama Buddha. Penghargaan ini tidak bersifat materiil, melainkan simbolis sebagai bentuk ungkapan terima kasih dan pengakuan spiritual dari komunitas Buddha.
Di Pematangsiantar, pemberian Anumodana kepada kepala daerah dan pejabat publik lainnya bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat juga pernah menerima penghargaan serupa atas kontribusi mereka dalam menjaga kerukunan umat beragama.