ACEH TAMIANG — Bencana banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Aceh Tamiang belum surut sepenuhnya ketika Idul Adha tiba. MPW Pemuda Pancasila Sumut memutuskan untuk mengarahkan seluruh hewan kurban ke titik-titik pengungsian dan permukiman yang masih terendam air.
Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah dengan dampak banjir terparah di perbatasan Sumut-Aceh. Ratusan KK masih bertahan di tenda darurat atau rumah yang lantainya berlumpur. Kondisi ini membuat akses ke pasar tradisional terbatas, sehingga pasokan protein hewani sangat dibutuhkan.
“Kami melihat saudara kami di Aceh Tamiang sedang sulit. Daripada daging kurban dibagi di Medan yang relatif normal, lebih baik kami kirim ke sini,” ujar perwakilan MPW Pemuda Pancasila Sumut dalam keterangannya, Senin lalu.
Delapan ekor sapi yang dikurbankan tidak dipotong di satu tempat. Panitia membagi tim ke tiga kecamatan yang paling parah terdampak banjir. Daging langsung diolah dan dibagikan dalam bentuk paket siap olah agar warga tidak perlu repot memasak di tengah kondisi darurat.
Banjir yang melanda Aceh Tamiang sejak awal Juni lalu disebabkan meluapnya Sungai Tamiang dan beberapa sungai kecil lainnya setelah hujan deras selama tiga hari berturut-turut. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat lebih dari 3.000 unit rumah terendam dengan ketinggian air bervariasi antara 50 sentimeter hingga 1,5 meter.
Akses darat ke beberapa desa sempat lumpuh total. Warga mengandalkan perahu karet untuk keluar-masuk kampung. Kondisi ini yang membuat distribusi bantuan, termasuk daging kurban, harus diatur secara khusus oleh organisasi masyarakat.
Langkah MPW Pemuda Pancasila Sumut ini bisa menjadi model bagi organisasi kemasyarakatan lain dalam menyalurkan bantuan kurban. Alih-alih membagikan daging di pusat kota, mengarahkan hewan kurban ke daerah bencana memberikan dampak ganda: memenuhi kebutuhan gizi darurat sekaligus mengurangi beban logistik pengungsi.
Di Sumatera Utara sendiri, beberapa kabupaten seperti Langkat, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai juga kerap dilanda banjir tahunan. Pola penyaluran serupa dinilai lebih efektif jika diterapkan secara konsisten setiap musim bencana.
Apakah daging kurban boleh dibagikan dalam kondisi darurat bencana?
Secara syariat, daging kurban boleh dibagikan kepada siapa pun yang membutuhkan, termasuk korban bencana. Prioritas utama adalah kaum duafa dan mereka yang sedang dalam kesulitan, sebagaimana kondisi warga terdampak banjir.
Bagaimana cara memastikan daging kurban sampai ke penerima yang tepat?
Kuncinya adalah koordinasi dengan pemerintah desa atau tokoh masyarakat setempat. Di Aceh Tamiang, Pemuda Pancasila bekerja sama dengan ketua RT/RW dan pengurus masjid untuk mendata penerima manfaat secara riil, bukan berdasarkan data lama.