Pencarian

Konsumsi Pertalite dan Solar Subsidi Melonjak Usai Harga Pertamax Naik, Begini Datanya

Kamis, 27 Agustus 2026 • 09:30:03 WIB
Konsumsi Pertalite dan Solar Subsidi Melonjak Usai Harga Pertamax Naik, Begini Datanya
Konsumsi Pertalite dan Solar subsidi meningkat tajam setelah penyesuaian harga Pertamax pada Juni 2026.

SUMATERA UTARA — Kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku sejak 10 Juni 2026 ternyata mendorong pergeseran konsumsi masyarakat ke bahan bakar yang disubsidi pemerintah. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengungkapkan, konsumsi Pertalite dan Solar subsidi meningkat tajam seiring melonjaknya aktivitas logistik dan tumbuhnya sektor-sektor produktif.

Penyaluran Pertalite Meningkat Hingga 9.794 KL per Hari

Sebelum harga Pertamax disesuaikan, rata-rata penyaluran Pertalite berada di level 75.795 KL per hari. Angka ini kemudian merangkak naik 9,19 persen atau bertambah sekitar 6.965 KL per hari pada periode setelah penyesuaian harga.

Lonjakan berlanjut pada 1-31 Juli 2026, di mana konsumsi Pertalite tercatat naik 12,92 persen dengan tambahan penyaluran sekitar 9.794 KL per hari. Wahyudi menjelaskan, fenomena ini menunjukkan adanya perpindahan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite.

"Jadi artinya kenaikan konsumsi Pertalite yang rerata saat ini menjadi 84.368 KL ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsi Pertamax menjadi Pertalite," ujarnya dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).

Memasuki Agustus 2026, laju kenaikan konsumsi Pertalite mulai melandai setelah harga Pertamax dikoreksi dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter.

Solar Subsidi Ikut Terdongkrak Aktivitas Logistik

Konsumsi Solar subsidi juga menunjukkan tren serupa. Sebelum penyesuaian harga solar nonsubsidi, rata-rata penyaluran harian berada di angka 50.624 KL. Angka tersebut kemudian bertambah sekitar 7.647 KL per hari menjadi 58.271 KL.

"Kenaikan menunjukkan kenaikan yang paling tinggi di bulan Agustus sebesar 15,10 persen. Ini khusus solar subsidi dan kami terus melakukan proses dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat secara baik karena faktor ekonomi juga terjadi indikasi peningkatan," kata Wahyudi.

Peningkatan kebutuhan Solar subsidi terutama terlihat di wilayah dengan aktivitas logistik padat seperti Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya, Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, dan Makassar.

Sektor Produktif dan Program Strategis Pemerintah Jadi Pemicu

Wahyudi menambahkan, meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi tidak lepas dari pertumbuhan sektor-sektor produktif. Data BPH Migas menunjukkan sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen secara year to date (YTD), akomodasi dan makan-minum tumbuh 10,60 persen YTD, serta sektor pertanian tumbuh 3,8 persen YTD.

"Ini penting untuk dicermati karena di Triwulan 2 ini kegiatan logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut," jelasnya.

Implementasi program strategis pemerintah pada 2026 seperti Koperasi Nelayan Merah Putih, Brigadir Pangan, hingga UTSD turut mendorong peningkatan distribusi BBM ke masyarakat. BPH Migas memastikan akan terus mengawal pemenuhan kebutuhan BBM bersubsidi agar penyalurannya tepat sasaran di tengah meningkatnya permintaan.

Follow monitorsumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks