MEDAN — Salmon Sumihar Sagala mengingatkan bahwa pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Kenyamanan, keramahan, kepastian biaya, serta rasa aman wisatawan menjadi faktor penentu apakah pengunjung akan kembali atau beralih ke destinasi lain.
"Jangan sampai wisatawan datang ke Karo membawa uang untuk berwisata, tetapi pulang membawa cerita buruk tentang pungutan, ketidaknyamanan atau perlakuan yang tidak menyenangkan. Kalau ini terus terjadi dan viral, dampaknya bisa panjang terhadap pariwisata kita," ujar Salmon kepada wartawan di Medan, Rabu (26/8/2026).
Kasus Deleng Singkut Jadi Momentum Pembenahan Menyeluruh
Anggota DPRD Sumut dari daerah pemilihan Karo, Dairi dan Pakpak Bharat itu menilai kasus Deleng Singkut seharusnya menjadi momentum bagi Pemkab Karo untuk melakukan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar merespons setelah video viral beredar. Keluhan serupa soal pengelolaan objek wisata di Karo sebelumnya juga sempat menjadi perhatian masyarakat.
Salmon menyebut kawasan pemandian air panas Sidebuk-debuk, Deleng Singkut hingga Siosar memiliki potensi besar menjadi magnet wisatawan. Namun, potensi itu tidak akan maksimal apabila persoalan akses, pelayanan, parkir, pungutan, dan kenyamanan pengunjung tidak ditangani secara serius.
Pemkab Diminta Petakan Seluruh Objek Wisata
Salmon meminta Pemkab Karo bersama aparat terkait melakukan pemetaan terhadap seluruh objek wisata, termasuk menginventarisasi persoalan parkir dan berbagai bentuk pengutipan yang dibebankan kepada pengunjung. Wisatawan, kata dia, harus mendapatkan informasi yang jelas mengenai tarif resmi pemerintah maupun pungutan yang diberlakukan pengelola atau pelaku usaha.
"Pemkab harus hadir. Jangan menunggu viral baru bergerak. Pariwisata ini menyangkut banyak orang, mulai dari pelaku UMKM, hotel, restoran, pedagang, transportasi sampai masyarakat sekitar. Kalau wisatawan berkurang, yang paling dulu merasakan dampaknya masyarakat," tegasnya.
Pelaku Usaha Diminta Tak Pungut Sewenang-wenang
Salmon juga mengingatkan para pelaku usaha agar tidak menjadikan lahan usaha sebagai alasan untuk melakukan pengutipan secara sepihak. Jika terjadi persoalan antara pengunjung dan pengusaha, penyelesaian harus dilakukan melalui komunikasi yang baik dan sesuai ketentuan.
"Jika satu persoalan muncul, mungkin wisatawan masih bisa memaklumi. Tetapi kalau di beberapa tempat muncul keluhan yang hampir sama, lama-lama terbentuk persepsi bahwa berwisata ke Karo itu tidak nyaman. Ini yang harus kita cegah," katanya.
Pembenahan Pariwisata Harus Terpadu dan Berkelanjutan
Politisi PDI Perjuangan itu berharap pembenahan sektor pariwisata Karo dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Pemerintah, pengelola destinasi, pelaku usaha, dan masyarakat harus memiliki komitmen bersama untuk menciptakan kawasan wisata yang bersih, aman, nyaman, transparan dalam tarif, serta ramah terhadap wisatawan.
"Jangan sampai keindahan alam Karo kalah oleh cerita buruk di pintu masuknya. Kita punya Sidebuk-debuk, Deleng Singkut, Siosar dan banyak destinasi lainnya. Potensinya luar biasa, tetapi harus dibarengi pelayanan yang luar biasa juga. Kalau tidak, wisatawan bisa memilih daerah lain," pungkas Salmon.