SUMATERA UTARA — Dolar Amerika Serikat menembus level Rp 18.187 pada perdagangan hari ini, Rabu (28/10/2026), setelah dibuka di posisi Rp 18.161. Penguatan berlanjut dari penutupan Selasa (27/10) di Rp 18.156, membawa mata uang Paman Sam itu mendekati ambang Rp 18.200. Sepanjang 2026, dolar AS sudah menguat 9,03% terhadap rupiah.
Data Bloomberg menunjukkan dolar AS menguat 0,09% ke level Rp 18.173 pada pembukaan perdagangan hari ini. Dari posisi awal Rp 18.161, laju dolar AS terus menanjak hingga menyentuh Rp 18.187 tak lama setelah sesi dibuka.
Pergerakan hari ini diperkirakan berada dalam rentang Rp 18.161 hingga Rp 18.189. Level tersebut menempatkan rupiah pada posisi terlemahnya dalam beberapa pekan terakhir.
Penguatan Sejak Awal Tahun Capai 9,03%
Sepanjang 2026, dolar AS tercatat menguat 9,03% terhadap rupiah. Angka itu menjadikan tahun ini sebagai salah satu periode pelemahan rupiah paling tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Penguatan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap rupiah. Terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, posisi dolar AS bergerak variatif dengan kecenderungan menguat tipis.
Dolar AS Melemah Terhadap Euro dan Poundsterling
Terhadap euro (EUR), dolar AS melemah 0,02%. Sementara di hadapan poundsterling (GBP), mata uang Paman Sam itu turun 0,04%.
Berbeda dengan dua mata uang Eropa tersebut, dolar AS justru menguat terhadap yen Jepang (JPY) sebesar 0,01%. Terhadap dolar Australia (AUD), dolar AS menguat 0,10%.
Penguatan juga tercatat terhadap dolar Kanada (CAD) dan franc Swiss (CHF), masing-masing sebesar 0,08%. Pola ini menunjukkan dolar AS masih menjadi tujuan utama arus modal di tengah ketidakpastian pasar global.
Tekanan terhadap Rupiah Masih Berlanjut
Pergerakan dolar AS ke level Rp 18.187 pagi ini memperpanjang tren pelemahan rupiah yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas, level ini menambah beban biaya impor dan cicilan utang luar negeri.
Investor perlu mencermati rentang pergerakan Rp 18.161 hingga Rp 18.189 sebagai acuan sesi hari ini. Penembusan ke atas level tersebut berpotensi membuka ruang penguatan dolar AS lebih lanjut.