SUMATERA UTARA — Ford mengumumkan pihaknya telah merakit sel baterai LFP prismatik pertama di fasilitas Bluoval Battery Park, Michigan, pada Selasa pekan lalu. Teknologi dan lisensi produksi baterai ini didapatkan dari raksasa baterai asal China, CATL. CEO Ford, Jim Farley, mengonfirmasi bahwa pengiriman sel perdana telah dilakukan, menjadikan Ford pelopor produksi baterai LFP untuk otomotif massal di Amerika Serikat.
Mengapa Ford Pilih Baterai LFP untuk Pikap Listrik Murahnya?
Keputusan Ford menggunakan baterai LFP bukan tanpa alasan. Menurut Lisa Drake, Vice President Program Platform dan Sistem EV Ford, pilihan ini sudah diambil sejak bertahun-tahun lalu demi menghadirkan kendaraan listrik yang benar-benar terjangkau. Baterai LFP disebut lebih murah, lebih ringan, dan mampu mengoptimalkan ruang kabin dibanding baterai lithium-ion konvensional.
“Untuk benar-benar menghadirkan kendaraan listrik yang terjangkau, kami mengambil keputusan ini sejak lama,” ujar Drake dalam pernyataannya tahun lalu. Ia juga menekankan bahwa pabrik ini menciptakan lapangan kerja bergaji tinggi dan akan sangat disayangkan jika harus diperlambat.
Pikap Listrik Rp 480 Jutaan: Lawan Toyota RAV4 dan Tesla Model Y?
Pikap listrik menengah ini akan menjadi model pertama yang menggunakan platform Universal Electric (UEV) milik Ford. Meski masih berupa prototipe—sempat tertangkap kamera sedang diuji di Long Beach pekan lalu—Ford mengklaim kendaraan ini akan menawarkan ruang kabin lebih luas dari Toyota RAV4 dan biaya kepemilikan lebih rendah dari Tesla Model Y. Harga mulai 30.000 dolar AS atau setara Rp 480 juta (estimasi kurs Rp 16.000) menjadikannya salah satu pikap listrik termurah di pasar AS.
Menariknya, prototipe yang tertangkap kamera menyembunyikan kode QR dalam kamuflasenya. Kode tersebut mengarahkan ke situs web rahasia yang didedikasikan khusus untuk kendaraan listrik anyar Ford ini. Produksi massal akan dilakukan di pabrik perakitan Louisville, dengan pengiriman perdana ke konsumen dijadwalkan tak lama setelah peluncuran pada 2027.
Dominasi China dan Sikap Berbeda GM
Keputusan Ford memproduksi baterai LFP di AS terjadi di tengah dominasi mutlak China di pasar baterai global. Menurut data SNE Research, CATL dan BYD—dua perusahaan yang fokus pada baterai LFP—menguasai lebih dari 55 persen penjualan baterai EV global pada 2025. Dari total 4,95 juta ton material katoda yang dikirim tahun lalu, LFP menyumbang 3,47 juta ton atau 72 persen pangsa pasar.
Di sisi lain, kompetitor Ford, General Motors (GM), justru dilaporkan mempertimbangkan ulang penggunaan baterai LFP untuk kendaraan listrik masa depannya, menurut laporan Reuters. Keputusan Ford untuk tetap melangkah dengan LFP, meskipun ada resistensi politik terkait penggunaan teknologi China, menunjukkan strategi agresif mereka untuk merebut segmen pasar kendaraan listrik terjangkau yang selama ini belum tergarap maksimal di Amerika.