Pernyataan ini disampaikan C.C. Wei dalam pertemuan pemegang saham perusahaan di Taiwan, pekan lalu. Ia mengakui bahwa ledakan permintaan chip untuk kecerdasan buatan dari para hyperscaler—seperti Google, Microsoft, dan Amazon—jauh melampaui kemampuan produksi TSMC saat ini. “Butuh waktu lama sebelum kami bisa memenuhi permintaan pelanggan,” ujar Wei, seperti dikutip dari keterangan resmi perusahaan.
Strategi Harga Stabil di Tengah Krisis Pasokan
Yang menarik, di tengah tekanan permintaan yang luar biasa, TSMC justru memilih untuk tidak menaikkan harga. Wei menyatakan akan menjaga harga tetap stabil dan menahan diri dari kenaikan harga chip. Keputusan ini kontras dengan langkah yang diambil banyak pemasok komponen lain yang menaikkan harga saat pasokan mengetat.
Bagi TSMC, keputusan ini kemungkinan merupakan langkah strategis untuk mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pelanggan besar seperti Apple, Nvidia, dan AMD. Namun, bagi pembuat chip lain, situasi ini justru membuka celah.
Peluang Emas Intel di Tengah Keterbatasan TSMC
Ketidakmampuan TSMC memenuhi permintaan menjadi angin segar bagi Intel. Perusahaan yang tengah berjuang bangkit ini memiliki lini produksi chip canggih, termasuk node 18A dan 14A, yang bisa menjadi alternatif. “Perusahaan yang sangat membutuhkan chip canggih mungkin akan beralih ke Intel,” tulis analis dalam laporan yang dikutip dari bahan berita.
Intel selama ini berusaha meyakinkan pasar bahwa teknologi fabrikasinya mampu bersaing dengan TSMC. Kini, dengan adanya backlog permintaan yang besar, Intel memiliki kesempatan untuk membuktikan diri sebagai pemasok alternatif yang layak.
Dampak ke Pasar Chip Global dan Indonesia
Krisis kapasitas TSMC ini diperkirakan akan memperpanjang waktu tunggu pengiriman chip untuk berbagai produk, mulai dari GPU data center hingga prosesor laptop. Bagi Indonesia, dampaknya mungkin tidak langsung terasa di ranah konsumen, tetapi bisa mempengaruhi ketersediaan server untuk layanan cloud dan AI yang mulai banyak digunakan startup lokal.
Beberapa perusahaan teknologi di Indonesia yang mengandalkan infrastruktur AI dari penyedia global mungkin akan menghadapi kenaikan biaya sewa komputasi atau keterbatasan kapasitas, setidaknya hingga TSMC atau Intel bisa menambah kapasitas produksi secara signifikan.
TSMC sendiri tengah membangun pabrik baru di Arizona, Jepang, dan Jerman, namun pabrik-pabrik tersebut diperkirakan baru akan beroperasi penuh dalam dua hingga tiga tahun ke depan.