MEDAN — Jhon (55) tetap setia menjaga tumpukan memori masa lalu di tokonya yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja, tepat di samping Masjid Raya Al-Mashun, Kota Medan. Di tengah kepungan perangkat canggih, ia masih menjajakan perabotan dan barang elektronik tempo dulu yang kini mulai dilupakan masyarakat umum.
Usaha ini merupakan warisan keluarga yang kini dikelola oleh Jhon sebagai generasi kedua. Ia mencatat bahwa toko tersebut setidaknya sudah berdiri selama puluhan tahun, dengan dirinya sendiri yang sudah memegang kendali selama dua dekade terakhir, Jumat (8/5/2026).
Kolektor Menghilang dan Dominasi Pedagang Barang Bekas
Kondisi pasar barang antik di Medan mengalami pergeseran signifikan dalam sepuluh tahun terakhir. Jhon mengungkapkan bahwa sosok kolektor murni yang berburu barang untuk hobi pribadi kini semakin sulit ditemukan di lapangan.
"Sementara para konsumen seperti kolektor barang antik di sepuluh tahun belakangan ini semakin sulit kita temui, malah kebanyakan para pedagang yang akan menjual kembali," tutur Jhon saat ditemui di tokonya.
Fenomena ini mengubah pola transaksi di tokonya. Jika dulu pembeli datang untuk mengoleksi, kini mayoritas pelanggan adalah sesama pedagang yang mencari stok untuk dijual kembali ke pasar yang lebih luas atau segmentasi berbeda.
Koleksi Lintas Zaman dari Era Kolonial hingga Primitif
Toko Barang Antik Jhon dikenal memiliki koleksi yang cukup beragam. Barang-barang tersebut didapatkan melalui jaringan agen hingga penelusuran mandiri terhadap pemilik barang yang berniat menjual aset lama mereka.
Beberapa jenis koleksi yang tersedia di toko ini meliputi:
- Barang elektronik jadul dan perabotan rumah tangga tempo dulu.
- Benda-benda peninggalan zaman kolonial.
- Benda seni dari zaman primitif hingga era pertengahan atau vintage.
- Berbagai barang impor lama yang memiliki nilai sejarah.
Beberapa barang yang dipajang merupakan stok lama peninggalan orang tuanya, sementara sebagian lainnya adalah barang yang baru masuk hasil perburuan terbaru. Keberagaman koleksi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang masih menghargai nilai sejarah sebuah benda.
Harapan Regenerasi Penghobi Benda Budaya Bersejarah
Meski pasar sedang lesu, Jhon berharap ada regenerasi di kalangan anak muda untuk mulai mencintai barang-barang antik. Baginya, benda-benda ini bukan sekadar barang bekas, melainkan media edukasi mengenai perkembangan teknologi dan budaya di masa lalu.
"Harapan saya semoga kedepannya terus adanya regenerasi kolektor dan penghobi yang menyukai barang antik. Sebagai rasa kecintaan kita kepada benda benda budaya yang bersejarah," pungkas Jhon.
Ia menambahkan bahwa keberadaan barang-barang antik ini juga membuktikan bahwa sejak zaman dahulu masyarakat sudah mengenal barang-barang impor. Melalui benda-benda ini, masyarakat bisa belajar tentang kualitas dan estetika yang pernah berjaya pada masanya.