TOBA — Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Toba turut mendampingi Bupati dalam pertemuan dengan Direktur Pupuk Kementerian Pertanian beserta jajaran. Laporan kondisi lapangan disampaikan langsung, termasuk rincian lahan yang akan ditanami pada Musim Tanam II.
Pengurangan alokasi pupuk NPK sebesar 1.500 ton membuat lima kecamatan di Toba kekurangan kuota. Kekurangan itu muncul tepat saat petani bersiap memasuki musim tanam kedua.
Bupati menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada Kementerian Pertanian. Alokasi NPK yang dipangkas 1.500 ton membuat distribusi di lima kecamatan tidak lagi mencukupi kebutuhan petani.
Kementerian Pertanian menyambut baik laporan tersebut. Pihaknya berkomitmen segera mengevaluasi dan mengupayakan realokasi kuota NPK guna menutupi kekurangan.
Selain kebutuhan mendesak pupuk, Pemkab Toba mengajukan permohonan 7.500 ton kapur dolomit. Bahan ini dibutuhkan untuk perbaikan pH tanah agar lahan pertanian di Toba lebih sehat dan produktif dalam jangka panjang.
Permohonan dolomit menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas lahan, bukan sekadar menambah pasokan pupuk. Perbaikan pH tanah menentukan efektivitas pemupukan berikutnya.
Untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, Pemkab Toba mendorong optimalisasi program Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO). Potensi 2.405 ekor ternak lokal akan dimanfaatkan maksimal untuk menghasilkan pupuk alternatif yang mandiri dan ramah lingkungan.
Langkah ini menyasar kemandirian pupuk di tingkat petani. Kotoran ternak yang selama ini tersedia di kampung-kampung diarahkan menjadi bahan baku pupuk organik.
Pemkab Toba juga memastikan kesiapan penyaluran 54 ton benih jagung. Benih tersebut akan segera didistribusikan kepada petani dalam waktu dekat.
Penyaluran benih jagung mendukung peningkatan indeks pertanaman dan ketahanan pangan daerah. Petani penerima diharapkan bisa segera memulai olah lahan begitu benih tiba.
Langkah jemput bola ke Kementerian Pertanian ditempuh agar kebutuhan sarana produksi pertanian tidak menjadi penghambat Musim Tanam II. Evaluasi dan realokasi kuota NPK menjadi penentu apakah kekurangan 1.500 ton bisa tertutup sebelum masa tanam bergulir.