SUMATERA UTARA — Holding BUMN Pangan ID Food menargetkan peresmian peternakan ayam terintegrasi di enam lokasi pada Juli 2027. Fasilitas yang mencakup produksi Grand Parent Stock dan pabrik pakan di sentra jagung itu disiapkan untuk menekan fluktuasi pasokan serta harga ayam dan telur nasional.
Direktur Utama ID Food Ghimoyo menyatakan target peresmian itu disampaikan dalam Agrifood Forum 2026 yang digelar CNN Indonesia di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (19/10). Menurut dia, proyek peternakan ayam terintegrasi tersebut dirancang menjawab persoalan klasik stabilisasi pasokan dan harga ayam serta telur.
Fasilitas yang dibangun ID Food mencakup produksi Grand Parent Stock (GPS), bukan sekadar kandang ayam komersial. Bibit dari fasilitas GPS akan diturunkan bertahap menjadi parent stock hingga DOC (day old chick) sebelum didistribusikan ke peternak rakyat.
Ghimoyo menegaskan distribusi bibit itu menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali budidaya unggas di daerah. "Lalu kita juga GPS itu kita lempar ke sana sampai jadi parent stock, sampai jadi DOC, jadi kita akan menghidupkan kembali budidaya masyarakat yang dilakukan masyarakat," ujarnya.
Dengan pola tersebut, ID Food memposisikan diri sebagai penyedia input hulu, sementara produksi harian tetap berada di tangan peternak mitra. Skema ini berbeda dari model peternakan tertutup yang sepenuhnya dikelola korporasi.
Komponen kedua yang disiapkan adalah pabrik pakan yang dibangun di sentra produksi bahan baku, yakni Gorontalo, Bone, dan Lampung. Ketiga wilayah dikenal sebagai lumbung jagung nasional.
Lokasi pabrik dipilih agar biaya logistik bahan baku pakan bisa ditekan. Pakan selama ini menyumbang porsi terbesar dalam struktur biaya produksi ayam ras, sehingga penurunan harga pakan berdampak langsung ke harga jual di tingkat peternak.
"Kita bangun juga pabrik pakan yang kita bangun itu ada di sentra-sentra produksi bahan baku seperti Gorontalo, Bone, Lampung. Itu kan sentra-sentra jagung itu yang kita harapkan akan menurunkan harga (pakan)," kata Ghimoyo.
Langkah intervensi dari hulu hingga hilir itu disebut sejalan dengan penugasan pemerintah kepada ID Food untuk mengamankan ketersediaan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Mandat tersebut menempatkan BUMN pangan ini sebagai penjaga pasokan sekaligus penstabil harga.
"ID Food punya mandat CPP, yaitu menjaga pasokan dan stabilisasi harga itu yang akan kita coba supaya gejolak harganya tidak terlalu drastis," ujar Ghimoyo.
Bagi pelaku usaha peternakan, proyek ini berpotensi mengubah dua hal sekaligus: ketersediaan DOC dengan harga lebih terkendali dan biaya pakan yang lebih murah jika pabrik di tiga sentra jagung beroperasi penuh. Keduanya merupakan komponen biaya yang paling sering dikeluhkan peternak saat harga ayam hidup anjlok.
Peresmian ditargetkan Juli 2027, sekitar sembilan bulan dari pengumuman di forum tersebut. Dalam rentang itu, pembangunan kandang GPS, pabrik pakan, serta jalur distribusi DOC ke peternak mesti rampung agar target operasional tidak bergeser.
ID Food belum memerinci nilai investasi maupun kapasitas produksi tahunan dari enam lokasi tersebut. Ghimoyo juga tidak menyebut pembagian lokasi peternakan ayam terintegrasi, hanya menegaskan pabrik pakan berada di Gorontalo, Bone, dan Lampung.
Agrifood Forum 2026 sendiri mengangkat tema "Swasembada Protein & Peluang Pangan Global" dan menghadirkan sejumlah menteri, pejabat pemerintah, serta pimpinan BUMN. Rangkaian acara terbagi dalam tiga sesi, termasuk diskusi bersama Menko Pangan Zulkifli Hasan dan panel "Dari Swasembada ke Daya Saing Pangan".
Keberhasilan proyek ini pada akhirnya akan diukur dari dua indikator sederhana: seberapa lebar selisih harga ayam antara musim panen dan musim paceklik, serta seberapa cepat peternak rakyat kembali mengisi kandang setelah sempat mengurangi populasi akibat harga jual yang tidak menutup biaya.