MEDAN — Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Utara memburuk setelah asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti 14 kabupaten. Berdasarkan pantauan citra satelit BBMKG Wilayah I Medan, jarak pandang di beberapa titik pengamatan turun drastis menjadi 500 meter hingga 5 kilometer.
Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menyebut sebaran asap bergerak dinamis mengikuti pola angin. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan kondisi kabut di lapangan.
BMKG mendeteksi empat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tersebar di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Padang Lawas Utara, dan Tapanuli Selatan. Titik-titik inilah yang menjadi sumber asap yang kemudian menyebar ke wilayah lain.
"Belum bisa diketahui dari provinsi mana asapnya. Angin bertiup dari tenggara ke barat laut, tapi yang pasti hanya 4 titik hotspot dengan kepercayaan tinggi (warna merah) di Provinsi Sumatera Utara," ujar Hendro dalam keterangannya, Selasa (8/9).
Sebaran asap terpantau merata di wilayah pesisir timur hingga perbatasan selatan Sumatera Utara. Kabupaten yang terdampak meliputi Asahan, Batubara, Simalungun, Samosir, Toba, serta lima kabupaten di kawasan Labuhanbatu dan Tapanuli.
Wilayah lainnya yang ikut diselimuti asap adalah Padang Lawas, Padang Lawas Utara, dan Mandailing Natal. Konsentrasi partikel halus PM2.5 di sejumlah lokasi berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Silangit, Stasiun Meteorologi F.L Tobing Sibolga, dan Stasiun Meteorologi Aek Godang menunjukkan penurunan jarak pandang signifikan pada 8 September 2026.
"Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada 8 September 2026 terjadi penurunan jarak pandang menjadi 500 meter hingga 5 kilometer," kata Hendro. Kondisi ini diperparah kabut yang menyertai sebaran asap di lapangan.
BBMKG Wilayah I Medan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi pengguna jalan yang melintasi area berkabut. Jarak pandang rendah berpotensi mengganggu keselamatan berkendara, khususnya di jalur luar kota dan pegunungan.
Hendro menegaskan pihaknya akan terus memantau perkembangan sebaran asap dan memperbarui informasi secara berkala. Masyarakat diminta memantau kanal resmi BMKG untuk mendapatkan arahan terbaru terkait kondisi cuaca dan kualitas udara.