TPIA Kantongi Aster, Pendapatan 2026 Diproyeksi Tembus US$ 12,3 Miliar

Penulis: Mukhtar Latif  •  Rabu, 02 September 2026 | 12:28:01 WIB
TPIA resmi mengantongi Aster Chemicals, mengubah skala bisnisnya menjadi grup energi-kimia regional yang terintegrasi.

SUMATERA UTARA — Masuknya Aster Chemicals—aset yang sebelumnya bernama Shell Energy and Chemicals Park Singapore—merampungkan transformasi skala bisnis TPIA. Lewat usaha patungan dengan Glencore, TPIA kini mengelola kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari (bpd), ethylene cracker 1,1 juta ton per tahun, dan sederet aset kimia hilir di Singapura.

Dari Petrokimia Lokal Menjadi Pemain Energi Regional

Sebelum Aster, TPIA adalah pemain petrokimia dengan pasar utama Indonesia. Setelah integrasi, perseroan memiliki rantai bisnis lengkap dari pengolahan minyak hingga produk polimer.

"Jadi, Aster inilah yang mengubah TPIA dari pemain petrokimia Indonesia menjadi grup energi-kimia yang jauh lebih terintegrasi secara regional," kata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam keterangan resmi, Rabu (2/9).

Dengan rantai bisnis yang lebih panjang, TPIA mampu menangkap margin dari dua segmen sekaligus. Artinya, kinerja perseroan tidak lagi mudah tergerus ketika spread petrokimia sedang tertekan.

Proyeksi Pendapatan dan Sinyal Valuasi

Perubahan skala ini langsung terlihat dari proyeksi keuangan. Kiwoom Research memperkirakan pendapatan TPIA pada 2026 mencapai US$ 12,3 miliar dengan EBITDA sekitar US$ 1,8 miliar.

Paruh pertama 2026 saja, TPIA sudah mengantongi pendapatan US$ 5,34 miliar. Artinya, enam bulan ke depan perseroan masih harus mengejar hampir US$ 7 miliar lagi untuk memenuhi target tersebut.

Pada valuasi pasar saat ini yang setara sekitar 4 kali estimasi enterprise value terhadap EBITDA (EV/EBITDA) 2027, Liza menilai harga saham TPIA belum sepenuhnya mencerminkan perubahan skala bisnis pasca-integrasi Aster.

Mesin Pertumbuhan Baru: Proyek CA-EDC dan SPBU Esso

Pertumbuhan TPIA ke depan tidak lagi bertumpu pada bisnis petrokimia utama. Ada tiga sumber pendapatan baru yang mulai terlihat.

  • Proyek CA-EDC: pabrik terintegrasi penghasil caustic soda dan ethylene dichloride yang ditargetkan beroperasi 2027. Produk ini menjadi bahan baku industri high pressure acid leach (HPAL) untuk pengolahan nikel baterai.
  • Bisnis ritel energi Singapura: jaringan SPBU Esso yang diakuisisi dari ExxonMobil memberi pendapatan berulang dari penjualan bahan bakar ritel.
  • Permintaan domestik: pasar Indonesia masih defisit struktural untuk sejumlah produk petrokimia, sehingga harga jual TPIA ditopang mekanisme import-parity pricing.

Kapan Waktu Tepat Membeli Saham TPIA?

Meski fundamental membaik, Kiwoom Research menyarankan investor bersabar. Secara teknikal, saham TPIA masih berada di bawah area resistance moving average Rp 1.980–Rp 2.040.

Rekomendasi saat ini adalah wait and see. Jika level tersebut tembus, saham baru menarik untuk speculative buy dengan alokasi maksimal 25% dari portofolio.

Target harga terdekat ada di Rp 2.100. Setelah itu, investor bisa mempertimbangkan average up dengan target menengah Rp 2.270–Rp 2.370 dan target berikutnya Rp 2.550.

Perlu dicatat, ekspansi TPIA ke energi dan bahan baku baterai menempatkan perseroan di persimpangan dua tren besar: transisi energi dan elektrifikasi kendaraan. Namun eksekusi proyek dan integrasi Aster tetap menjadi faktor yang perlu dipantau.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Mukhtar Latif
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top