SUMATERA UTARA — Ketahanan sektor perbankan pelat merah kembali teruji. Di tengah dinamika ekonomi yang menekan biaya dana, empat emiten BUMN bank—Bank Mandiri, Bank BTN, Bank BNI, dan Bank BRI—membukukan pertumbuhan laba bersih sepanjang Januari–Juni 2026. Meski laju pertumbuhannya tidak seragam, seluruhnya tetap berada di zona positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bank Mandiri keluar sebagai pencetak laba terbesar di antara bank pelat merah. Sepanjang paruh pertama 2026, BMRI mengantongi laba bersih Rp30,4 triliun, melesat 24,4 persen dibandingkan semester pertama 2025.
Pendorong utamanya adalah ekspansi kredit yang solid. Penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh 19,9 persen secara tahunan, menandakan permintaan pembiayaan korporasi dan ritel masih kuat di tengah kondisi suku bunga yang relatif tinggi.
Jika Bank Mandiri unggul dari sisi nominal, Bank BTN justru memimpin dari sisi persentase pertumbuhan. BBTN membukukan laba bersih Rp2,40 triliun pada semester pertama 2026, atau naik signifikan 40,8 persen secara tahunan—pertumbuhan tertinggi di antara empat emiten BUMN bank.
Kinerja bottom-line BTN ditopang oleh transformasi bisnis dan pertumbuhan kredit perumahan yang stabil. Efisiensi juga menjadi kunci: bank spesialis perumahan ini berhasil menekan biaya dana (cost of fund) ke level 3,01 persen, sebuah pencapaian yang berkontribusi besar terhadap margin keuntungan.
Di sisi lain, Bank BNI (BBNI) mencatat pertumbuhan laba paling moderat. BNI mengemas laba bersih Rp10,75 triliun sepanjang semester pertama 2026, hanya naik 6,56 persen secara tahunan. Perlambatan ini terjadi meskipun penyaluran kredit BNI tumbuh agresif 24,4 persen YoY.
Ekspansi kredit yang agresif tersebut rupanya menekan margin bunga bersih (NIM) BNI menjadi 3,55 persen akibat kenaikan biaya bunga. Artinya, BNI berhasil menyalurkan lebih banyak kredit, tetapi biaya untuk mendapatkan dana murah juga ikut meningkat.
Performa semester pertama 2026 ini menunjukkan sektor perbankan BUMN masih memiliki daya tahan profitabilitas yang kuat. Pertumbuhan laba yang tidak merata mencerminkan strategi masing-masing bank dalam mengelola ekspansi dan efisiensi.
Bank Mandiri memilih pertumbuhan kredit yang solid dengan menjaga kualitas aset, BTN fokus pada efisiensi biaya dana untuk mendongkrak laba, sementara BNI memilih ekspansi kredit agresif yang untuk sementara mengorbankan margin. Perbedaan strategi ini menjadi bahan evaluasi menarik bagi investor menjelang akhir tahun buku 2026.