MEDAN — Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Sumatera Utara memperpanjang masa peringatan dini cuaca ekstrem untuk periode sepekan ke depan. Kepala BBMKG Wilayah I, Dr. Hendro Nugroho, M.Si, menyebutkan bahwa potensi hujan lebat dipicu oleh kombinasi gelombang atmosfer aktif dan belokan angin di wilayah barat Sumatera.
BMKG memetakan 26 daerah yang masuk zona waspada. Daftar ini mencakup kawasan di pesisir timur, dataran tinggi, hingga kepulauan. Beberapa di antaranya adalah Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Karo, Dairi, Toba, Samosir, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Mandailing Natal, serta Kota Medan, Binjai, Pematangsiantar, Sibolga, dan Gunungsitoli.
Wilayah Kepulauan Nias juga masuk dalam prediksi daerah dengan curah hujan tinggi. Ini berarti hampir seluruh zona di Sumatera Utara berpotensi mengalami cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan.
Menurut Hendro, pola cuaca yang diprakirakan cukup khas. Pada pagi hingga siang hari, kondisi umumnya cerah berawan. Namun, pemanasan permukaan yang kuat pada siang hari memicu pertumbuhan awan konvektif secara cepat.
“Awan ini kemudian berkembang menjadi hujan lebat yang bisa disertai angin kencang pada sore hingga malam hari,” jelas Hendro dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (20/7/2026).
Faktor lain yang memperkuat pembentukan awan hujan adalah suhu muka laut yang hangat di perairan Sumatera serta kondisi atmosfer yang labil. Kombinasi ini membuat proses konveksi berlangsung lebih intens.
BMKG mengingatkan bahwa hujan lebat dengan durasi panjang berpotensi memicu sejumlah bencana hidrometeorologi. Banjir, banjir bandang, dan tanah longsor menjadi ancaman utama bagi warga yang bermukim di lereng bukit atau bantaran sungai.
Selain itu, angin kencang yang menyertai hujan juga bisa menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan atap rumah. Masyarakat di daerah rawan diminta untuk lebih waspada, terutama saat kondisi cuaca mulai gelap dan angin bertiup kencang.
Dalam prospek cuaca mingguan ini, BMKG juga mengimbau pemerintah daerah untuk aktif berkoordinasi dengan BPBD, TNI, dan Polri. Tujuannya adalah menyiapkan langkah tanggap darurat jika dampak cuaca ekstrem mulai dirasakan warga.
Hendro menekankan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi cuaca yang tidak jelas sumbernya. “Jadikan informasi resmi BMKG sebagai rujukan utama melalui kanal BBMKG Wilayah I Medan maupun media sosial @infobmkgsumut,” pungkasnya.