Riset Ungkap Mayoritas Petani Sawit Sumut Belum Efisien, Akses Pasar Langsung Bisa Dongkrak Produksi 16%

Penulis: Hamzah Effendi  •  Selasa, 21 Juli 2026 | 18:04:01 WIB
Riset Universitas Airlangga ungkap 74% petani sawit di Sumatera Utara berada dalam fase increasing returns to scale.

MEDAN — Riset terbaru dari Universitas Airlangga mengungkapkan bahwa sebagian besar pekebun kelapa sawit di Sumatera Utara belum mencapai tingkat efisiensi teknis yang optimal. Dari 150 petani yang diteliti, hanya 14 orang (9,3%) yang berada pada kondisi constant returns to scale, sementara 24 petani (16%) lainnya mengalami decreasing returns to scale.

Angka paling mencolok justru datang dari kelompok terbesar: 112 petani (74%) berada dalam fase increasing returns to scale. Ini menandakan bahwa mereka masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan skala produksi dan menekan pemborosan input.

Akses Pasar Langsung Jadi Faktor Paling Kuat

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Deni Kusumawardani, S.E., M.Si. ini menggunakan metode dua tahap. Data Envelopment Analysis (DEA) dipakai untuk mengukur tingkat efisiensi, lalu dilanjutkan dengan regresi Tobit untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinya.

Hasilnya, akses pasar langsung terbukti mampu meningkatkan efisiensi teknis hingga 16%. Temuan ini menegaskan bahwa keterhubungan petani dengan pasar yang lebih luas dan menguntungkan menjadi kunci utama. "Akses pasar langsung, khususnya yang difasilitasi oleh pemerintah, menjadi faktor paling dominan," tulis riset tersebut.

Informasi, Benih Sertifikat, dan Pengalaman Petani Juga Berpengaruh

Selain akses pasar, faktor lain yang signifikan menekan inefisiensi adalah ketersediaan informasi, penggunaan benih bersertifikat, dan pengalaman petani. Riset ini mencatat bahwa pemanfaatan teknologi komunikasi seperti telepon seluler dan internet menjadi cara efektif untuk mengurangi masalah moral hazard dan asimetri informasi di lapangan.

Namun, ada satu temuan yang menarik. Implementasi Integrated Value Chains (IVCs) justru tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap efisiensi teknis. Hal ini disebabkan oleh belum terintegrasinya sistem IVC secara optimal serta keterbatasan data cross-section yang digunakan dalam penelitian.

Strategi: Fokus ke Pasar, Bukan Sekadar Rantai Nilai

Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan bahwa strategi peningkatan efisiensi sektor kelapa sawit sebaiknya difokuskan pada penguatan akses pasar, peningkatan akses informasi berbasis teknologi, serta penggunaan input berkualitas. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan integrasi rantai nilai yang belum optimal.

Temuan ini menjadi relevan bagi pemangku kebijakan di Sumatera Utara. Perbaikan akses pasar tidak hanya bisa meningkatkan kualitas produksi dan efisiensi, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan petani di lapangan.

Reporter: Hamzah Effendi
Sumber: unair.ac.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top