MEDAN — Di hadapan puluhan kader Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Medan, Budi Hariono merefleksikan lompatan teknologi yang dialaminya sejak masa kuliah pada 1995-1996. Ia bercerita bagaimana dulu harus belajar mengetik sepuluh jari menggunakan mesin tik manual, lalu bertransisi ke komputer berbasis sistem operasi DOS yang rumit, hingga kini memasuki era AI.
“Dulu waktu saya kuliah tahun ’95 atau ’96, kami belajar mengetik sepuluh jari menggunakan mesin tik, bahkan ada mata kuliah khususnya. Lalu masuk era transisi komputer yang masih menggunakan DOS dan sistem prompt. Perkembangan itu berjalan sangat cepat sampai era disket, CD, hingga sekarang kita sudah berada di era AI,” kenang Budi.
Budi secara jujur mengakui bahwa dirinya adalah pengguna aktif AI di Dinas Kominfo Medan. Namun, ia memberikan catatan kritis terkait dampak buruk ketergantungan pada teknologi tersebut. Menurutnya, kemudahan luar biasa yang ditawarkan aplikasi AI, seperti pembuatan naskah pidato otomatis, berpotensi membuat generasi muda berhenti berkembang.
“Jujur saja, sekarang kalau mau buat pidato tinggal klik sekali menggunakan AI langsung jadi. Oleh karena itu, jangan sampai kemajuan ini membuat kita malas dan berhenti berkembang. Justru harus kita manfaatkan sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih jauh,” ujar Budi Hariono.
Seminar yang mengusung tema riset literasi AI ini bertujuan membekali mahasiswa agar tidak sekadar menjadi konsumen teknologi. Sekretaris PC IMM Kota Medan, Achmad Navish Isnaini, menegaskan bahwa kehadiran AI tidak boleh mendegradasi kualitas intelektual mahasiswa.
“Ketika kita menggunakan AI ini, sejatinya kecerdasan yang dibuat itu bukan semata-mata untuk memenuhi syarat atau kapasitas diri secara instan. AI harus dijadikan alat atau produk pendukung untuk kebutuhan sehari-hari dan riset kita agar lebih optimal,” kata Achmad Navish didampingi Ketua Panitia Seminar, Sutan Raja Hendi Firmansyah.
Menurut Navish, AI kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem akademik mahasiswa. Ia menekankan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu produktivitas, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia.
Seminar Riset Literasi AI ini menghadirkan dua narasumber. Pertama, Kaprodi Sistem Informasi Fikti UMSU, Mahardika Abdi Prawira Tanjung, dan kedua, Muhammad Fattah dari Dinas Kominfo Kota Medan. Keduanya memaparkan tentang pemanfaatan AI untuk riset akademik serta batasan etika dalam penggunaannya.
Kegiatan ini dihadiri kader IMM dari berbagai komisariat se-Kota Medan. Diharapkan, para mahasiswa tidak hanya mahir menggunakan AI, tetapi juga mampu menyaring informasi dan tetap mengedepankan daya kritis dalam setiap penggunaannya.