MEDAN — Konflik agraria di Deli Serdang kembali memanas. Sebuah insiden unik terjadi di kantor media Aktual Online, ketika seorang pengirim yang mengaku sebagai utusan pengembang perumahan Jewel Garden meninggalkan satu unit pendingin ruangan (AC) yang hingga kini belum diambil kembali. Redaksi menduga barang tersebut adalah upaya untuk melunakkan pemberitaan mengenai sengketa lahan yang melibatkan pihak pengembang dengan kelompok masyarakat setempat.
Petinggi redaksi Aktual Online tidak berada di tempat saat paket AC tersebut tiba. Barang itu masih tersegel dan terbungkus rapi di dalam kotak seperti saat pertama kali dikirim. "Meski belum diketahui motif pengiriman barang tersebut secara jelas, namun redaksi Aktual Online menduga AC itu sengaja diantar guna mendinginkan berita sengketa lahan pihak Jewel Garden dengan kelompok masyarakat," tulis pemberitaan yang diterbitkan media tersebut.
Ngatimin alias Andus, seorang tokoh masyarakat, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada redaksi Aktual Online karena dinilai telah menolak pemberian dari pihak property. Ia menegaskan bahwa tanah yang diperjuangkan seluas 177 hektare merupakan lahan milik orangtua mereka yang dulu direbut paksa oleh perkebunan dengan bantuan aparat dan tuduhan PKI kepada pemilik lahan.
"Terimakasih Aktual Online sudah bersama kami. Tanah yang dibangun Jewel Garden itu merupakan 177 Ha milik masyarakat. Sementara kami mau diusir, mereka disentuh pun tidak oleh Bupati maupun PTPN I," kata Ngatimin, Jumat (17/7/2026) sore.
Menurut Ngatimin, ada kejanggalan dalam kasus ini. Perumahan mewah Jewel Garden yang dibangun di atas lahan yang sama tidak pernah dipersoalkan oleh PTPN I Regional I. Bupati Deli Serdang pun dinilai tidak berani menggusur bangunan elite yang menurut masyarakat didirikan dengan surat-surat palsu. "Menyakitkannya, masyarakat saat ini mau diusir dari lahan milik mereka karena klaim sepihak dari PTPN I Regional I sebagai aset HGU," ujarnya.
Ia menambahkan, praktik gusur-menggusur ini seolah menjadi tradisi yang selalu menguntungkan pengusaha non pribumi, seperti Jewel Garden dan Ciputra dengan proyek Citraland-nya. Meski begitu, Ngatimin memastikan perlawanan tidak akan berhenti karena lahan yang diperjuangkan bukanlah tanah eks HGU atau HGU, melainkan hak milik yang sudah diwariskan secara turun-temurun.