SUMATERA UTARA — Langkah ini menjadi tonggak baru setelah proyek mendapatkan persetujuan Final Investment Decision (FID) pada April 2026. Deputi Eksploitasi SKK Migas, Surya Widyantoro, hadir langsung dalam seremoni yang digelar bersama kontraktor EPCIC, PT Meindo Elang Indah, serta sejumlah pemangku kepentingan industri hulu migas nasional.
Lapangan Bukit Panjang diproyeksikan memiliki puncak produksi mencapai 50 juta kaki kubik gas per hari (50 MMSCFD). Fasilitas produksi lepas pantai yang dibangun akan terintegrasi dengan infrastruktur eksisting di Lapangan Bukit Tua, yang sudah berproduksi sejak 2015 di Wilayah Kerja Ketapang.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa pencapaian FID dan dimulainya fabrikasi menjadi bukti nyata kepercayaan investor terhadap potensi sektor hulu migas Indonesia. "Semakin cepat tentu semakin baik. Kami berharap tahun depan Lapangan Bukit Panjang dapat onstream dengan tambahan produksi kondensat sekitar 1.000 barel minyak per hari serta menghasilkan LPG hingga 189 metrik ton per hari atau setara sekitar 2.170 BOEPD," ujar Djoko.
Presiden Direktur PCK2L, Yuzaini Md Yusof, menyebut proyek ini bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan nilai aset melalui pengembangan yang efisien dan berkelanjutan. "Kami berterima kasih atas dukungan penuh yang telah diberikan oleh Pemerintah Indonesia dan SKK Migas," ungkap Yuzaini.
PCK2L merupakan bagian dari Searah Limited, perusahaan patungan yang resmi berdiri pada 1 Juni 2026 melalui kolaborasi antara PETRONAS dan Eni dengan komposisi kepemilikan masing-masing 50 persen. Searah Limited dibentuk untuk mengelola 19 aset gas yang telah berproduksi maupun masih dalam tahap pengembangan di Indonesia dan Malaysia, dengan Wilayah Kerja Ketapang sebagai salah satu aset utama.
Keberhasilan proyek Lapangan Bukit Panjang diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi bukti berlanjutnya kepercayaan investor global terhadap prospek industri hulu migas Indonesia di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi energi nasional secara berkelanjutan.